Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

Mamalia · Sumatera · Jawa

Ajag

Ajag (Cuon alpinus) adalah anjing liar asia yang hidup berkelompok di hutan dan savana Sumatera dan Jawa. IUCN menggolongkannya Genting.

Disusun dari sumber tercantum dengan bantuan AI. Cara penyusunan dan batas tinjauan

Foto Ajag (Cuon alpinus).
(c) Morten Ross, some rights reserved (CC BY) · CC BY 4.0 · Gambar dipotong untuk tata letak.

Jawaban singkat

Status IUCN: Genting

Sekilas tentang ajag

Ajag (Cuon alpinus) adalah mamalia dari famili Canidae. Wilayahnya di Indonesia: Sumatera dan Jawa. Pola makannya: terutama satwa berkuku seperti rusa timor. Status Daftar Merah IUCN: Genting (Endangered).

Fakta singkat: Ajag
Nama ilmiahCuon alpinus
Nama InggrisDhole
KelompokMamalia
FamiliCanidae
Wilayah di IndonesiaSumatera dan Jawa
Habitat terkaitHutan Hujan Tropis, Sabana
MakananTerutama satwa berkuku seperti rusa timor
Sebaran di IndonesiaSumatera dan Jawa, kini terpencar di kawasan konservasi
Ciri utamaCokelat kemerahan, dagu dan perut putih, ekor tebal kehitaman
Berat17–21 kg menurut Animal Diversity Web
Nama lainAnjing ajag, anjing hutan, asu kikik, dhole
Status perlindungan di IndonesiaDilindungi menurut Permen LHK P.106/2018 (lampiran no. 12)
Status IUCNGenting (Endangered) · IUCN Red List (via GBIF) · diperiksa 14 Oktober 2026
Dalam panduan ini (12)
Tentang panduan iniDisusun dan diperiksa terhadap sumber tercantum; belum ditinjau pakar.

Apa itu ajag?

Ajag adalah anjing liar asia (Cuon alpinus) yang hidup dan berburu secara berkelompok; di Indonesia ia hanya terdapat di Sumatera dan Jawa. Bulunya cokelat kemerahan dengan dagu, leher, dan perut putih, serta ekor panjang berbulu tebal kehitaman. Sekilas ajag mirip serigala, dan di beberapa daerah di Jawa ia disebut asu kikik (Mongabay Indonesia).

Menurut Animal Diversity Web, berat ajag dewasa 17–21 kg, dan ajag punya satu gigi geraham bawah lebih sedikit di tiap sisi rahang dibanding anggota keluarga anjing lainnya. IUCN menggolongkan ajag sebagai Genting (Endangered) dalam penilaian 2015, yang kini ditandai perlu diperbarui.

Dasar informasi: Mongabay Indonesia (2021) — Jangan Keliru, Wujud Anjing Ajag Sekilas Mirip Serigala ↗ · Animal Diversity Web — Cuon alpinus (dhole) ↗ · IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗

Di mana ajag hidup?

Ajag hidup di hutan dan savana Sumatera dan Jawa, tetapi sebarannya kini terpencar. Menurut penilaian IUCN 2015, ajag dulu ada di seluruh kedua pulau. Di Sumatera ajag terkonfirmasi di taman nasional sepanjang Bukit Barisan, seperti Gunung Leuser, Kerinci Seblat, dan Bukit Barisan Selatan, serta di hutan dataran rendah seperti Tesso Nilo dan Bukit Tigapuluh. Di Jawa, penilaian itu hanya mencatat konfirmasi di ujung barat (Ujung Kulon, Gunung Gede Pangrango, Gunung Halimun Salak) dan ujung timur (Baluran, Alas Purwo).

Mongabay Indonesia (2025) menambahkan catatan dari Bromo Tengger Semeru dan Meru Betiri, serta mengutip kajian Havmøller dan rekan bahwa pada 2020 ajag hanya tersisa di 25 lokasi di Indonesia.

Dasar informasi: IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗ · Mongabay Indonesia (2025) — Inilah Ajag, Anjing Liar yang Keberadaannya Antara Ada dan Tiada ↗ · Mongabay Indonesia (2021) — Jangan Keliru, Wujud Anjing Ajag Sekilas Mirip Serigala ↗

Ajag makan apa?

Ajag adalah karnivora yang terutama memangsa satwa berkuku. IUCN menyebut ajag lebih menyukai mangsa berkuku seberat 40–60 kg, tetapi akan memangsa satwa berkuku yang lebih kecil atau lebih besar bila mangsa seukuran itu tidak tersedia. Di Taman Nasional Baluran, disertasi Sandy Nurvianto mencatat sedikitnya 20 jenis mangsa, dan satwa berkuku diperkirakan menyumbang lebih dari 95 persen biomassa yang dimakan (Mongabay Indonesia).

Di Baluran ajag biasanya berburu rusa timor secara berkelompok, tetapi juga memakan sisa bangkai banteng, rusa, dan babi. Ajag kadang dituding memangsa ternak, seperti kematian kambing di Kuningan, Jawa Barat, pada akhir 2020; Mongabay Indonesia menyebut kejadian itu bisa menjadi tanda awal berkurangnya mangsa di hutan.

Dasar informasi: IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗ · Mongabay Indonesia (2025) — Inilah Ajag, Anjing Liar yang Keberadaannya Antara Ada dan Tiada ↗ · Mongabay Indonesia (2021) — Jangan Keliru, Wujud Anjing Ajag Sekilas Mirip Serigala ↗

Bagaimana ajag hidup berkelompok dan berkembang biak?

Ajag hidup dalam kawanan yang dipimpin satu pasangan dominan. Animal Diversity Web mencatat kawanan berisi 5–12 ekor, dan anggota lain ikut membesarkan anak pasangan dominan, termasuk memberi makan induk dan anak dengan daging yang dimuntahkan kembali. Masa buntingnya sekitar 60–62 hari.

IUCN mencatat bahwa di hutan tropis yang selalu hijau di Asia Tenggara, kawanan ajag cenderung lebih kecil daripada di India, kemungkinan karena mangsa lebih sedikit. Mongabay Indonesia menyebut ajag punya lolongan keras dan jelas, dan kadang berburu sendiri atau berpasangan, tergantung ketersediaan mangsa.

Dasar informasi: Animal Diversity Web — Cuon alpinus (dhole) ↗ · IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗ · Mongabay Indonesia (2021) — Jangan Keliru, Wujud Anjing Ajag Sekilas Mirip Serigala ↗

Mengapa ajag terancam punah?

Ajag terancam karena mangsanya berkurang, habitatnya hilang, dan ia diburu karena memangsa ternak. IUCN juga menyebut penularan penyakit dari anjing domestik sebagai ancaman. Penilaian IUCN 2015 memperkirakan populasi global 4.500–10.500 ekor, dengan hanya 949–2.215 individu dewasa.

Di Indonesia, data tentang ajag sangat sedikit. Peneliti Linnea Havmøller mencatat hanya sembilan dari 165 studi ajag di Web of Knowledge yang berasal dari Indonesia (Mongabay Indonesia). Mongabay juga mencatat adanya anggapan masyarakat bahwa ajag merugikan, sehingga satwa ini diburu untuk dimusnahkan.

Dasar informasi: IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗ · Mongabay Indonesia (2025) — Inilah Ajag, Anjing Liar yang Keberadaannya Antara Ada dan Tiada ↗ · Mongabay Indonesia (2021) — Jangan Keliru, Wujud Anjing Ajag Sekilas Mirip Serigala ↗

Apa yang harus dilakukan jika bertemu ajag?

Ajag adalah satwa dilindungi: Cuon alpinus tercantum sebagai anjing ajag pada nomor 12 lampiran Permen LHK P.106/2018. Jika bertemu ajag, jaga jarak dan jangan mendekat, mengejar, menangkap, meracun, atau membunuhnya.

Jika ternak diserang, laporkan ke BKSDA atau balai taman nasional terdekat agar petugas dapat menanganinya. Jangan membawa atau melepas anjing peliharaan ke hutan habitat ajag, karena IUCN menyebut penularan penyakit dari anjing domestik sebagai salah satu ancaman. Foto atau video ajag beserta lokasinya juga berguna bagi petugas, karena datanya di Indonesia masih sangat terbatas.

Dasar informasi: JDIH Kementerian Kehutanan — Lampiran Permen LHK P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi ↗ · IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗ · Mongabay Indonesia (2025) — Inilah Ajag, Anjing Liar yang Keberadaannya Antara Ada dan Tiada ↗

Jelajahi habitat terkait

Hubungan berikut didukung sumber spesies dalam panduan ini. Daftar ini bukan peta sebaran lengkap.

Klasifikasi ilmiah Ajag

Klasifikasi ilmiah dari kingdom sampai spesies
KingdomAnimalia
FilumChordata
KelasMammalia
OrdoCarnivora
FamiliCanidae
GenusCuon
SpesiesCuon alpinus

Sumber: GBIF Backbone Taxonomy, disesuaikan dengan peringkat yang umum dipakai dalam pelajaran biologi (misalnya kelas Reptilia).

Pertanyaan umum tentang ajag

Apa nama latin dan nama Inggris ajag?

Nama latin atau nama ilmiah ajag adalah Cuon alpinus, dari famili Canidae. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Dhole.

Ajag berasal dari mana dan di mana habitatnya?

Di Indonesia, panduan ini mencatat ajag di wilayah berikut: Sumatera dan Jawa.

Habitat terkait yang didukung sumber: Hutan Hujan Tropis, Sabana.

Ajag makan apa?

Pola makan ajag: terutama satwa berkuku seperti rusa timor.

Apa ciri-ciri ajag?

Ciri-ciri ajag menurut sumber panduan ini: Ciri utama: cokelat kemerahan, dagu dan perut putih, ekor tebal kehitaman; Berat: 17–21 kg menurut Animal Diversity Web.

Bagaimana klasifikasi ajag?

Klasifikasi ilmiah ajag: kingdom Animalia, filum Chordata, kelas Mammalia, ordo Carnivora, famili Canidae, genus Cuon, spesies Cuon alpinus.

Sumber: GBIF Backbone Taxonomy, disesuaikan dengan peringkat yang umum dipakai dalam pelajaran biologi.

Apakah ajag terancam punah?

Ya. Dalam Daftar Merah IUCN, ajag masuk kategori Genting (Endangered): spesies ini dinilai menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar. Sumber: IUCN Red List (via GBIF), diperiksa 14 Oktober 2026.

Status global ini berbeda dari status perlindungan hukum di Indonesia. Untuk memastikan apakah ajag termasuk satwa dilindungi, periksa daftar jenis satwa dilindungi yang berlaku atau hubungi BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat.

Sumber & referensi

  1. Animal Diversity Web — Cuon alpinus (dhole) ↗
  2. Mongabay Indonesia (2021) — Jangan Keliru, Wujud Anjing Ajag Sekilas Mirip Serigala ↗
  3. Mongabay Indonesia (2025) — Inilah Ajag, Anjing Liar yang Keberadaannya Antara Ada dan Tiada ↗
  4. JDIH Kementerian Kehutanan — Lampiran Permen LHK P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi ↗
  5. IUCN Red List — Cuon alpinus, Dhole (Kamler et al. 2015) ↗
  6. GBIF Backbone Taxonomy (GBIF) ↗
  7. IUCN Red List of Threatened Species, versi 2026-1, melalui GBIF (CC BY 4.0) ↗

Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli. Cara kami menggunakan sumber dan data →

Rujuk halaman ini

Cantumkan PanduanHewan saat merujuk halaman ini. Periksa sumber bukti asli sebelum menggunakan kembali suatu klaim.

PanduanHewan. Ajag (Cuon alpinus). Pembaruan substansial terakhir: 14 Oktober 2026. https://panduanhewan.org/id/spesies/ajag/