Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

KUCING & ANJING

Rabies pada anjing dan kucing: gejala dan pencegahan

Rabies adalah infeksi virus pada otak yang hampir selalu fatal setelah gejala muncul. Vaksin anjing dan kucing mencegahnya; 26 provinsi masih endemis.

Tentang panduan iniDisusun dari pedoman organisasi kedokteran hewan dan kesehatan yang tercantum; belum ditinjau dokter hewan.
Informasi umum untuk pemilik hewan, bukan pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh dokter hewan. Jika hewan Anda tampak sangat sakit, kesakitan, sulit bernapas, atau mungkin keracunan, segera hubungi dokter hewan.

Jawaban singkat

Poin penting

  • Rabies menular lewat air liur hewan terinfeksi, terutama gigitan, dan hampir selalu fatal setelah gejala muncul.
  • Di Indonesia, sekitar 98% kasus rabies ditularkan lewat gigitan anjing, sisanya lewat kucing dan kera, menurut Kemenkes.
  • Menurut Kemenkes (2025), 26 dari 38 provinsi masih endemis rabies dan 12 provinsi berstatus bebas rabies.
  • Memvaksin setidaknya 70% anjing di daerah berisiko dapat menekan kasus rabies pada manusia hingga nol, menurut WOAH.
  • Jika seseorang digigit, segera cari pertolongan medis di fasilitas kesehatan dan laporkan hewan yang menggigit ke dinas kesehatan hewan atau puskeswan setempat.

Kapan harus ke dokter hewan?

  • Segera jauhi hewan dan hubungi dokter hewan serta dinas yang membidangi kesehatan hewan atau puskeswan jika anjing atau kucing tiba-tiba berubah perilaku (menjadi galak atau menyendiri), menggigit tanpa sebab, berliur berlebihan, sulit menelan, atau mulai lumpuh.
  • Hewan peliharaan Anda digigit atau dicakar anjing, kucing, atau hewan liar yang status vaksinnya tidak diketahui, terutama di daerah endemis.
  • Hewan peliharaan Anda menggigit orang: orang itu harus segera ke fasilitas kesehatan, dan hewan perlu dilaporkan ke dinas atau puskeswan untuk diobservasi.
  • Anjing atau kucing Anda belum pernah divaksin rabies, atau jadwal booster rabiesnya sudah terlewat.
  • Anak anjing atau anak kucing yang baru diadopsi dan riwayat vaksinnya tidak jelas.

Hubungi dokter hewan atau klinik hewan terdekat. Situs ini tidak dapat menilai kondisi hewan Anda. Cara memilih dokter hewan

Dalam panduan ini (11)

Apa itu rabies?

Rabies adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Virus ini dapat menginfeksi mamalia, termasuk anjing, kucing, ternak, dan satwa liar. Menurut WHO, begitu gejala klinis muncul, rabies hampir 100% berakibat fatal. WOAH menegaskan hal yang sama berlaku pada hewan maupun manusia. Kabar baiknya, rabies dapat dicegah dengan vaksin, sehingga vaksinasi hewan peliharaan menjadi salah satu perlindungan terpenting bagi keluarga.

Masa inkubasi, yaitu waktu dari tertular sampai muncul gejala, bisa panjang dan bervariasi. Pada manusia, WHO menyebut masa inkubasi biasanya 2–3 bulan, tetapi bisa berkisar dari satu minggu hingga satu tahun. Pada anjing, sebagian besar kasus muncul 21–80 hari setelah paparan, menurut MSD Veterinary Manual. Anjing dan kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan virus lewat air liur hingga 10 hari sebelum gejala tampak. Artinya, hewan yang masih tampak sehat pun sudah dapat menularkan virus pada masa itu.

Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · WOAH — Rabies ↗ · MSD Veterinary Manual — Rabies in animals ↗

Bagaimana rabies menular?

Rabies menular lewat air liur hewan yang terinfeksi, biasanya melalui gigitan, cakaran, atau kontak air liur dengan selaput lendir (mata, mulut) atau luka terbuka. WHO mencatat anjing bertanggung jawab atas hingga 99% kasus rabies pada manusia di dunia. Di Indonesia, Kemenkes menyebut sekitar 98% kasus rabies ditularkan lewat gigitan anjing dan 2% lewat kucing dan kera. Karena itu, anjing, kucing, dan kera disebut hewan penular rabies (HPR) dan menjadi sasaran utama vaksinasi rabies massal.

Kucing juga dapat menularkan rabies. MSD Veterinary Manual mencatat virus terdapat dalam air liur kucing yang terinfeksi, dan manusia pernah tertular rabies setelah digigit kucing. Menurut WHO, gigitan hewan pengerat tidak diketahui menularkan rabies, sedangkan penularan lewat daging mentah, susu, atau udara sangat jarang. Penularan antarmanusia secara teori mungkin terjadi, tetapi belum pernah dikonfirmasi. Di Indonesia, sumber penularan utama tetap anjing, sehingga vaksinasi anjing menjadi kunci pencegahan.

Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · Kemenkes — 8 dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies (2020) ↗ · Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗ · MSD Veterinary Manual — Rabies in animals ↗

Apa gejala rabies pada anjing dan kucing?

Tanda yang paling bisa diandalkan adalah perubahan perilaku mendadak dan kelumpuhan yang terus memburuk tanpa penyebab jelas, menurut MSD Veterinary Manual. Gejala awal bisa samar, seperti lesu, demam, muntah, dan tidak mau makan. Menurut WOAH, dalam beberapa hari hewan dapat mengalami gangguan keseimbangan, lemah, lumpuh, sulit bernapas dan menelan, berliur berlebihan, berperilaku tidak normal, dan menjadi agresif. Hewan yang biasanya jinak bisa tiba-tiba menjadi galak, atau justru menyendiri.

Pada bentuk "ganas", hewan mudah marah, menggigit dengan sedikit rangsangan, kehilangan rasa takut, dan berkeliaran jauh. Kucing yang terkena rabies dapat menyerang tiba-tiba sambil menggigit dan mencakar. IPB University juga menyebut hewan yang terinfeksi bisa tampak menyendiri dan lesu, bukan hanya galak, disertai air liur berlebihan. Gejala ini bisa mirip penyakit lain, dan WOAH menegaskan rabies hanya bisa dipastikan lewat uji laboratorium. Jauhkan diri dan anak-anak dari hewan yang dicurigai, lalu segera hubungi petugas kesehatan hewan.

Dasar informasi: MSD Veterinary Manual — Rabies in animals ↗ · WOAH — Rabies ↗ · IPB University (Unit Kesehatan) — Hari Rabies Sedunia ↗ · Dinas Pertanian Kota Denpasar — Dinas Pertanian Bentuk UPT Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan ↗

Provinsi mana saja yang bebas rabies di Indonesia?

Menurut Surat Edaran Kemenkes Nomor HK.02.02/C/508/2025, 12 dari 38 provinsi berstatus bebas rabies dan 26 provinsi lainnya endemis. Provinsi bebas rabies tersebut adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Kementerian Pertanian menyebut Jawa Timur tidak mencatat satu pun kasus rabies sejak 1996. Status ini bisa berubah, jadi periksa informasi terbaru dari dinas setempat.

Rabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Kemenkes melaporkan 185.359 kasus gigitan hewan penular rabies dan 122 kematian manusia akibat rabies sepanjang 2024, serta 25 kematian dari Januari hingga 7 Maret 2025. IPB University mencatat Nusa Tenggara Timur termasuk provinsi yang paling terdampak, dengan 19.320 kasus gigitan dan 35 kematian pada 2023. Provinsi bebas rabies pun perlu waspada. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mengingatkan bahwa lalu lintas hewan dari provinsi endemis di pulau yang sama dapat membawa rabies kembali.

Dasar informasi: Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗ · Kemenkes — Surat Edaran Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies di Indonesia ↗ · Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗ · IPB University (Unit Kesehatan) — Hari Rabies Sedunia ↗ · Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta — Respon Cepat Penanganan Kasus Gigitan Hewan Pembawa Rabies ↗

Mengapa vaksinasi anjing mencegah rabies pada manusia?

Karena hampir semua kasus rabies pada manusia berasal dari anjing, memvaksin anjing memutus penularan langsung dari sumbernya. WHO menyebut vaksinasi massal anjing, termasuk anak anjing, sebagai strategi paling hemat biaya untuk mencegah rabies pada manusia. Menurut WOAH, memvaksin setidaknya 70% anjing di daerah berisiko dapat menekan kasus pada manusia hingga nol. Kementerian Pertanian juga menyebut vaksinasi hewan penular, terutama anjing dan kucing, sebagai kunci utama pencegahan rabies di Indonesia.

Pada 2015, dunia menetapkan target nol kematian manusia akibat rabies yang ditularkan anjing pada 2030, yang dikenal sebagai "Zero by 30". Rencana strategis globalnya disusun bersama oleh WHO, WOAH, FAO, dan Global Alliance for Rabies Control. Indonesia juga menargetkan bebas rabies pada 2030. WHO menegaskan bahwa membunuh anjing yang berkeliaran bebas tidak efektif untuk mengendalikan rabies. Yang dibutuhkan adalah vaksinasi anjing, akses penanganan setelah gigitan, dan edukasi masyarakat tentang pencegahan gigitan.

Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · WHO — Zero by 30: the global strategic plan to end human deaths from dog-mediated rabies by 2030 ↗ · WOAH — Rabies ↗ · Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗ · IPB University (Unit Kesehatan) — Hari Rabies Sedunia ↗

Apa yang harus dilakukan pemilik anjing dan kucing?

Langkah terpenting adalah memvaksin anjing dan kucing Anda terhadap rabies dan memperbaruinya sesuai jadwal, terutama bila Anda tinggal di provinsi endemis. WSAVA menganjurkan semua anjing dan kucing di daerah endemis divaksin rabies walaupun tidak diwajibkan hukum. Manfaatkan vaksinasi massal atau layanan di puskeswan dan dinas; di Bali, vaksinasi rabies untuk HPR tidak dipungut biaya. Simpan kartu vaksin, karena menurut Kemenkes status vaksin hewan menjadi salah satu pertimbangan petugas bila hewan itu menggigit orang.

Jangan biarkan anjing berkeliaran tanpa pengawasan di tempat umum. Perda Bali Nomor 5 Tahun 2023 melarang melepas hewan peliharaan di tempat umum tanpa pengawasan pemilik, dan Kementan mendorong penerapan aturan pengandangan dan pengikatan anjing di Bali. Jangan membuang anjing atau kucing ke jalan, karena anjing liar dapat menjadi sumber utama penyebaran rabies. Sterilisasi juga membantu mengendalikan populasi hewan penular rabies. Bila melihat hewan dengan gejala rabies, segera laporkan kepada petugas dinas atau puskeswan setempat.

Dasar informasi: WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗ · Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗ · Ditjen PKH Kementan (BPMSPH) — Kementan Pacu Bali Bebas Rabies: Vaksinasi dan Edukasi Diperkuat ↗ · Dinas Pertanian Kota Denpasar — Dinas Pertanian Bentuk UPT Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan ↗

Apa yang harus dilakukan jika seseorang digigit anjing atau kucing?

Segera cari pertolongan medis di fasilitas kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, atau rabies center, tanpa menunggu gejala muncul. Kemenkes meminta masyarakat segera melaporkan kasus gigitan ke fasilitas kesehatan terdekat. Petugas kesehatan yang akan menilai risiko dan menentukan penanganan yang diperlukan. Jangan menunda hanya karena hewan yang menggigit tampak sehat atau dikenal, karena menurut WHO rabies hampir selalu berakibat fatal setelah gejala muncul.

Laporkan juga hewan yang menggigit ke dinas yang membidangi kesehatan hewan atau puskeswan setempat. Menurut Surat Edaran Kemenkes, hewan penular rabies yang menggigit dapat diobservasi selama 14 hari oleh otoritas kesehatan hewan, dan hasilnya dikoordinasikan dengan dinas kesehatan. Di Kota Yogyakarta, petugas kesehatan dan petugas kesehatan hewan bekerja sama dalam tata laksana kasus gigitan terpadu (Takgit). Serahkan keputusan tentang hewan itu kepada petugas, dan jangan menangani sendiri hewan yang dicurigai rabies.

Dasar informasi: Kemenkes — Surat Edaran Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies di Indonesia ↗ · Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗ · WHO — Rabies fact sheet ↗ · Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta — Respon Cepat Penanganan Kasus Gigitan Hewan Pembawa Rabies ↗

Sumber & referensi

  1. WHO — Rabies fact sheet ↗
  2. WHO — Zero by 30: the global strategic plan to end human deaths from dog-mediated rabies by 2030 ↗
  3. WOAH — Rabies ↗
  4. MSD Veterinary Manual — Rabies in animals ↗
  5. Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗
  6. Kemenkes — Surat Edaran Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies di Indonesia ↗
  7. Kemenkes — 8 dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies (2020) ↗
  8. Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗
  9. Ditjen PKH Kementan (BPMSPH) — Kementan Pacu Bali Bebas Rabies: Vaksinasi dan Edukasi Diperkuat ↗
  10. IPB University (Unit Kesehatan) — Hari Rabies Sedunia ↗
  11. Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta — Respon Cepat Penanganan Kasus Gigitan Hewan Pembawa Rabies ↗
  12. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗
  13. Dinas Pertanian Kota Denpasar — Dinas Pertanian Bentuk UPT Pusat Pelayanan Kesehatan Hewan ↗
  14. WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗

Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.

Kutip halaman ini

PanduanHewan. (2026, 25 September). Rabies pada anjing dan kucing: gejala dan pencegahan. PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/kesehatan-hewan/rabies-anjing-kucing/