Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

PANDUANHEWAN · INDONESIA

Log koreksi

Catatan bertanggal tentang kesalahan fakta yang kami perbaiki di PanduanHewan, beserta sumber yang mendasarinya.

Dalam panduan ini (4)

Cara membaca log ini

Kami mencatat koreksi yang mengubah fakta: nama, status konservasi, sebaran, angka, atau klaim hukum. Perbaikan ejaan dan tata letak tidak dicatat. Setiap halaman yang dikoreksi juga menampilkan tanggal pembaruan barunya.

Log ini memuat 72 koreksi. Jika Anda menemukan kesalahan lain, kirim koreksi beserta sumber yang mendukung.

1 Oktober 2026

Pesut Mahakam: status IUCN diperbaiki dari Genting (status spesies Orcaella brevirostris) menjadi Kritis, kategori yang ditetapkan Daftar Merah IUCN untuk subpopulasi Sungai Mahakam.

Gajah Kalimantan: menambahkan status Genting (Endangered) dari penilaian subspesies IUCN 2024 yang sebelumnya tidak ditampilkan, dan menghapus Sabah (Malaysia) dari wilayah sebaran di Indonesia.

Harimau Sumatera: sumber status Kritis diganti dari profil WWF ke penilaian subspesies Daftar Merah IUCN (P. t. sumatrae, 2008), dengan keterangan bahwa status ini adalah status subspesies; spesies harimau secara keseluruhan berstatus Genting.

Beruk: sebaran diperbaiki; spesies ini hanya ada di Semenanjung Malaya, Sumatera, Bangka, dan Borneo, bukan di seluruh Asia Tenggara daratan.

Siamang: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi Sumatera (Semenanjung Malaya berada di luar Indonesia).

Tapir Asia: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi Sumatera di selatan Danau Toba.

Banteng: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi Jawa, Bali, dan Kalimantan.

Rusa Timor: wilayah sebaran kini menjelaskan bahwa spesies ini asli Jawa dan Bali, dan diintroduksi ke pulau lain.

Beruang madu: wilayah di Indonesia ditulis sebagai Sumatera dan Kalimantan, bukan sebaran Asia Tenggara secara umum.

Trenggiling Sunda: wilayah di Indonesia ditulis sebagai Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Monyet ekor panjang: wilayah di Indonesia diperjelas (dari Sumatera, Jawa, dan Kalimantan hingga Timor).

Bekantan: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi Kalimantan.

Orangutan Kalimantan: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi Kalimantan.

Lutung budeng: menambahkan catatan taksonomi bahwa lutung di Jawa bagian barat kini diperlakukan sebagai spesies terpisah (Trachypithecus mauritius), sehingga sebagian catatan dari Jawa Barat dapat merujuk pada spesies itu.

Heatstroke: langkah pendinginan di rumah dihapus agar panduan tetap mengutamakan dokter hewan (kebijakan kami tidak memuat pertolongan pertama); angka risiko ras diperbaiki sesuai studi Hall dkk. (2020): Pug sekitar 3 kali, bukan 6 kali.

Anak kucing yatim: kalimat yang menyiratkan penghangatan anak kucing kedinginan di rumah diganti dengan arahan segera ke dokter hewan; waktu berat badan berlipat dua diperbaiki menjadi 7–10 hari.

Memilih dokter hewan: rujukan hukum izin praktik diperbarui; UU 18/2009 telah diubah UU Cipta Kerja (UU 6/2023), sedangkan surat izin praktik tetap diterbitkan kabupaten atau kota menurut aturan pelaksananya.

Parvo anjing: diperjelas bahwa semua varian yang beredar (CPV-2a, 2b, dan 2c), bukan hanya CPV-2c, dapat menular ke kucing yang belum divaksin.

Toksoplasmosis: tautan sumber Universitas Airlangga yang mati diganti dengan alamat barunya.

Elang Jawa: sebaran diperbarui menjadi Jawa dan Bali; penilaian BirdLife 2025 mencatat spesies ini juga di Bali berdasarkan catatan 2024.

Cenderawasih merah: kalimat yang menyatakan status konservasi belum terkonfirmasi diganti dengan status Hampir Terancam dari penilaian BirdLife 2022, agar tidak bertentangan dengan status di halaman.

Rangkong gading: menambahkan status Kritis (Critically Endangered, penilaian 2020) yang sebelumnya tidak ditampilkan, dan menghapus Asia Tenggara daratan dari wilayah sebaran di Indonesia.

Kasuari gelambir-ganda: wilayah di Indonesia diperbaiki (dataran rendah Papua, Kepulauan Aru, dan Seram) tanpa memasukkan Australia.

Walet sapi: sebaran diperbarui setelah pemisahan kompleks Collocalia esculenta pada 2017; dalam batasan terkini spesies ini terdapat dari Sulawesi dan Maluku hingga Papua.

Burung-madu hitam: dijelaskan bahwa daftar burung terkini memakai nama ilmiah Leptocoma aspasia (GBIF masih memakai sinonim L. sericea), dan nama Indonesia ditambahkan.

Kekep babi: nama Indonesia ditambahkan (sebelumnya keliru disebut “kapinis”, nama untuk walet/kapinis Apodidae) dan ejaan ilmiah yang berlaku, Artamus leucorynchus, dijelaskan.

Takur ungkut-ungkut: nama Indonesia diperbaiki dari terjemahan harfiah “takur tukang besi” ke nama baku Burung Indonesia.

Walet linci: ejaan nama Indonesia diperbaiki dan sebaran dilengkapi dengan Lombok serta pulau-pulau sekitarnya.

Julang Irian: nama di ringkasan diseragamkan dengan nama baku (sebelumnya “Julang Papua”).

Cikukua tanduk: nama yang tidak baku (“cikukua bertopi”) di ringkasan diganti dengan nama baku.

Kakatua kecil jambul kuning, kakatua Maluku, dan kakatua raja: famili diperbaiki dari Psittacidae menjadi Cacatuidae, sesuai BirdLife, IOC, dan eBird.

Wiwik rimba: menambahkan catatan taksonomi bahwa sejak 2024 spesies ini dipisahkan dari wiwik Sunda dan wiwik Sulawesi, sehingga banyak catatan GBIF dari Jawa merujuk pada spesies lain.

Nuri bayan-maluku: nama Indonesia diperbarui dan ditambahkan catatan bahwa spesies ini endemik Maluku; catatan dari Papua merujuk pada nuri bayan-papua.

Musang luwak: nama Inggris diganti dari “Northern Palm Civet” (nama untuk takson yang menurut Mammal Diversity Database tidak ada di Indonesia) menjadi “Asian Palm Civet”, dan nama Indonesia dipertegas menjadi musang luwak.

Kalong besar: nama utama Indonesia diganti dari nama daerah “bengkawat (Kalimantan)” menjadi nama baku kalong besar.

Monyet dare: nama utama Indonesia diganti dari nama Bugis “ceba” ke nama yang dipakai BBKSDA Sulawesi Selatan.

Owa jenggot putih: nama utama Indonesia diganti dari nama lokal “kelempiao” ke nama dalam lampiran P.106/2018.

Barong besar: nama Indonesia yang tidak baku (“kelelawar ladam-daun diadem”) diganti dengan nama baku.

Cecurut rumah: ukuran tubuh diperbaiki (kepala-badan 9–16 cm ditambah ekor 4,5–11 cm), menggantikan angka panjang total yang terlalu kecil.

Owa ungko: jarak terdengarnya “great call” diperbaiki menjadi sekitar 800 m sesuai sumber; angka 1 dalam sumber pemerintah merujuk pada frekuensi (1 kHz), bukan jarak.

Landak Jawa: klaim penelitian di Jawa Barat yang tidak didukung sumbernya diganti dengan sebaran dari Handbook of the Mammals of the World (endemik Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara).

Jalak suren: menambahkan status Kritis (Critically Endangered) dari BirdLife yang sebelumnya tidak tampil, sehingga spesies ini kini masuk daftar hewan terancam punah.

Sero ampang: menambahkan status Rentan (Vulnerable) dari IUCN yang sebelumnya tidak tampil, sehingga spesies ini kini masuk daftar hewan terancam punah.

Glosarium: definisi Risiko Rendah (Least Concern) diperjelas agar berbeda dari Hampir Terancam, dan istilah Indonesia untuk “protected area” diganti menjadi “kawasan terlindungi” sesuai terjemahan resmi Konvensi Keanekaragaman Hayati.

Gili Eco Trust: situs resmi tidak dapat diakses saat diperiksa (domain menampilkan galat “domain belum terhubung”); profil kini menandai hal itu dan merujuk ke arsip halaman organisasi.

Buaya senyulong: famili diperbaiki dari Crocodylidae menjadi Gavialidae, dan tahun kenaikan status ke Genting diperbaiki menjadi 2023 (Daftar Merah IUCN 2023-1).

Cicak rumah: teks Indonesia keliru menyebut spesies ini “tokek rumah” (nama untuk Gekko gecko); diperbaiki menjadi cicak rumah.

Ular air muka-gembung: sebaran diperbaiki menjadi Asia Tenggara; sejak revisi 2012 catatan dari Asia Selatan tidak lagi dianggap spesies ini.

Ular tampar: sebaran diperbaiki; populasi India hingga Myanmar kini dianggap spesies lain (Dendrelaphis proarchos).

Tokek berbintik dua: sebaran dilengkapi dengan Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Cicak jari-bengkok marmer: sebaran diperjelas sebagai gecko Indonesia yang terutama dikenal dari Jawa.

Biawak air: wilayah di Indonesia ditulis sebagai Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian Nusa Tenggara, bukan sebaran Asia secara umum.

Bintang laut berduri: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi terumbu karang di seluruh Indonesia; sebelumnya hanya tiga lokasi yang disebut.

Hiu macan: wilayah di Indonesia diperbaiki menjadi perairan Indonesia secara umum (Aceh dan NTB adalah lokasi pendaratan), dan famili diperbarui menjadi Galeocerdonidae.

Pari manta karang dan pari manta oseanik: famili diperbaiki dari Myliobatidae menjadi Mobulidae; wilayah pari manta karang di Indonesia ditulis spesifik.

Pari totol biru oriental: ditambahkan catatan bahwa ejaan yang diterima adalah Neotrygon orientalis dan status IUCN-nya Risiko rendah.

Hiu berjalan Raja Ampat: nama Indonesia diganti dari nama jarang “cucut tekeh” ke nama yang dipakai media dan peneliti Indonesia.

Penyu belimbing: waktu pelacakan rekor migrasi diperbaiki (2006 hingga awal 2008; sinyal hilang di Oregon), dan Pantai Fena Leisela di Pulau Buru disebut dengan sumber.

Raja laut: ukuran anak yang baru lahir diperbaiki menjadi 36–38 cm sesuai FishBase.

Penyu hijau, dugong, hiu paus, penyu sisik, dan penyu lekang: wilayah di Indonesia kini ditulis spesifik menurut lampiran Kepmen KP 66/2025 dan sumber KKP, menggantikan sebaran global.

Kuntul karang: nama Indonesia diperbaiki; “cangak pasifik” adalah nama spesies lain (Ardea pacifica).

Tepekong jambul: nama Indonesia di ringkasan diperbaiki; “tepekong rangkang” adalah nama Hemiprocne comata.

Elang-laut perut-putih: nama Indonesia yang sebelumnya tidak ada ditambahkan.

Kipasan dada-lurik: dijelaskan bahwa menurut BirdLife dan Burung Indonesia spesies ini adalah kipasan Timor, sedangkan kipasan Maluku dan Papua kini spesies terpisah.

Layang-layang api: nama utama Indonesia diganti ke nama baku Burung Indonesia.

Isap-madu australia, perling ungu, caladi ulam, walik kembang, kirik-kirik australia, raja-udang biru, dan uncal sultan: nama Indonesia di ringkasan diseragamkan dengan nama baku.

Raja-udang biru: nama Inggris diperbarui menjadi Cerulean Kingfisher, sesuai BirdLife, IOC, dan Burung Indonesia.

Jinjing batu: famili diperbarui dari Tephrodornithidae menjadi Vangidae, sesuai BirdLife dan Burung Indonesia.

Ayam hutan hijau: sebaran diperjelas menjadi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Kakatua raja: klaim bahwa tabuhan menandai wilayah dihapus karena tidak didukung sumbernya; sumber menyebutnya bagian dari ritual pameran jantan.

Ringkasan otomatis: kalimat sebaran yang rusak (“terdapat di tersebar luas”) diperbaiki untuk semua halaman.

Merbah cerukcuk, tekukur biasa, layang-layang batu, dan cekakak sungai: wilayah di Indonesia ditulis spesifik, menggantikan sebaran Asia secara umum.

Dasar informasi: IUCN SSC Cetacean Specialist Group — Red List status of cetaceans ↗ · IUCN — Bornean elephant listed as Endangered (June 2024) ↗ · IUCN Red List — Panthera tigris ssp. sumatrae ↗ · Mammal Diversity Database — Macaca nemestrina ↗ · Mammal Diversity Database — Trachypithecus mauritius ↗ · Hall, Carter & O’Neill (2020), Scientific Reports ↗ · International Cat Care — Hand-rearing kittens ↗ · pasal.id — UU 18/2009 Pasal 72 ↗ · MSD Veterinary Manual — Feline panleukopenia ↗ · BirdLife DataZone — Javan hawk-eagle ↗ · BirdLife DataZone — Red bird-of-paradise ↗ · BirdLife DataZone — Helmeted hornbill ↗ · BirdLife DataZone — Southern cassowary ↗ · BirdLife DataZone — Black sunbird ↗ · BirdLife Australia — White-breasted woodswallow ↗ · BirdLife DataZone — Yellow-crested cockatoo ↗ · eBird — 2024 taxonomy update ↗ · BirdLife DataZone — Moluccan eclectus ↗ · Mammal Diversity Database — Paradoxurus musanga ↗ · ProFauna — Pteropus vampyrus ↗ · BBKSDA Sulawesi Selatan — Monyet dare ↗ · Gibbonesia — Owa jenggot putih ↗ · Handbook of the Mammals of the World via GBIF — Suncus murinus ↗ · New England Primate Conservancy — Agile gibbon ↗ · Handbook of the Mammals of the World — Sunda porcupine ↗ · BirdLife DataZone — Javan pied starling ↗ · IUCN SSC Otter Specialist Group — Aonyx cinereus ↗ · IUCN Red List Categories and Criteria v3.1 ↗ · Reptile Database — Tomistoma schlegelii ↗ · Reptile Database — Hemidactylus frenatus ↗ · Reptile Database — Homalopsis buccata ↗ · Reptile Database — Dendrelaphis pictus ↗ · Reptile Database — Gekko monarchus ↗ · Reptile Database — Cyrtodactylus marmoratus ↗ · Uthicke et al. (2024) — crown-of-thorns starfish review ↗ · FishBase — Galeocerdo cuvier ↗ · WoRMS — Mobula alfredi ↗ · WoRMS — Neotrygon orientalis ↗ · Antara — Hiu berjalan Raja Ampat ↗ · SWOT — Pacific leatherback sets long-distance record ↗ · FishBase — Latimeria chalumnae ↗ · Kepmen KP 66/2025 — Jenis ikan yang dilindungi ↗

Sumber & referensi

  1. IUCN SSC Cetacean Specialist Group — Red List status of cetaceans ↗
  2. IUCN — Bornean elephant listed as Endangered (June 2024) ↗
  3. IUCN Red List — Panthera tigris ssp. sumatrae ↗
  4. Mammal Diversity Database — Macaca nemestrina ↗
  5. Mammal Diversity Database — Trachypithecus mauritius ↗
  6. Hall, Carter & O’Neill (2020), Scientific Reports ↗
  7. International Cat Care — Hand-rearing kittens ↗
  8. pasal.id — UU 18/2009 Pasal 72 ↗
  9. MSD Veterinary Manual — Feline panleukopenia ↗
  10. BirdLife DataZone — Javan hawk-eagle ↗
  11. BirdLife DataZone — Red bird-of-paradise ↗
  12. BirdLife DataZone — Helmeted hornbill ↗
  13. BirdLife DataZone — Southern cassowary ↗
  14. BirdLife DataZone — Black sunbird ↗
  15. BirdLife Australia — White-breasted woodswallow ↗
  16. BirdLife DataZone — Yellow-crested cockatoo ↗
  17. eBird — 2024 taxonomy update ↗
  18. BirdLife DataZone — Moluccan eclectus ↗
  19. Mammal Diversity Database — Paradoxurus musanga ↗
  20. ProFauna — Pteropus vampyrus ↗
  21. BBKSDA Sulawesi Selatan — Monyet dare ↗
  22. Gibbonesia — Owa jenggot putih ↗
  23. Handbook of the Mammals of the World via GBIF — Suncus murinus ↗
  24. New England Primate Conservancy — Agile gibbon ↗
  25. Handbook of the Mammals of the World — Sunda porcupine ↗
  26. BirdLife DataZone — Javan pied starling ↗
  27. IUCN SSC Otter Specialist Group — Aonyx cinereus ↗
  28. IUCN Red List Categories and Criteria v3.1 ↗
  29. Reptile Database — Tomistoma schlegelii ↗
  30. Reptile Database — Hemidactylus frenatus ↗
  31. Reptile Database — Homalopsis buccata ↗
  32. Reptile Database — Dendrelaphis pictus ↗
  33. Reptile Database — Gekko monarchus ↗
  34. Reptile Database — Cyrtodactylus marmoratus ↗
  35. Uthicke et al. (2024) — crown-of-thorns starfish review ↗
  36. FishBase — Galeocerdo cuvier ↗
  37. WoRMS — Mobula alfredi ↗
  38. WoRMS — Neotrygon orientalis ↗
  39. Antara — Hiu berjalan Raja Ampat ↗
  40. SWOT — Pacific leatherback sets long-distance record ↗
  41. FishBase — Latimeria chalumnae ↗
  42. Kepmen KP 66/2025 — Jenis ikan yang dilindungi ↗

Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.

Kutip halaman ini

PanduanHewan. (2026, 1 Oktober). Log koreksi. PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/log-koreksi/