Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

KESEHATAN ANJING

Vaksin anjing: jenis, jadwal, dan booster

Vaksin inti anjing melindungi dari distemper, hepatitis (adenovirus), dan parvovirus, serta rabies di daerah endemis. Seri dimulai usia 6–8 minggu.

Tentang panduan iniDisusun dari pedoman organisasi kedokteran hewan dan kesehatan yang tercantum; belum ditinjau dokter hewan.
Informasi umum untuk pemilik hewan, bukan pengganti pemeriksaan, diagnosis, atau pengobatan oleh dokter hewan. Jika hewan Anda tampak sangat sakit, kesakitan, sulit bernapas, atau mungkin keracunan, segera hubungi dokter hewan.

Jawaban singkat

Poin penting

  • Semua anjing membutuhkan vaksin inti terhadap distemper (CDV), adenovirus (CAV), dan parvovirus (CPV-2).
  • Di daerah endemis rabies, WSAVA menganggap vaksin rabies sebagai vaksin inti walaupun hukum tidak mewajibkannya.
  • Anak anjing mulai divaksin pada usia 6–8 minggu, diulang tiap 2–4 minggu hingga minimal 16 minggu, lalu sekali lagi sekitar usia 6 bulan.
  • Setelah itu, vaksin inti umumnya diulang tidak lebih sering dari tiap 3 tahun, sedangkan vaksin non-inti biasanya tiap tahun.
  • Kemenkes mencatat sekitar 98% kasus rabies di Indonesia ditularkan lewat gigitan anjing, sehingga vaksin rabies anjing melindungi keluarga Anda.

Kapan harus ke dokter hewan?

  • Segera bawa ke dokter hewan jika anak anjing atau anjing yang vaksinnya belum lengkap lesu, tidak mau makan, demam, muntah, atau diare, terutama bila diarenya berdarah.
  • Segera ke dokter hewan jika tak lama setelah vaksin anjing tampak biduran, wajahnya bengkak, sulit bernapas, atau kolaps.
  • Keluar cairan dari mata atau hidung, demam, gangguan pernapasan, diare, atau kedutan otot dan kejang pada anjing yang vaksinnya belum lengkap atau tidak diketahui.
  • Anjing tiba-tiba berubah perilaku, menjadi galak atau menyendiri, berliur berlebihan, atau sulit menelan: jauhi anjing itu dan hubungi dokter hewan serta dinas atau puskeswan.
  • Anjing digigit anjing lain atau hewan liar di daerah endemis rabies.
  • Lesu atau tidak mau makan setelah vaksin yang tidak segera membaik.

Hubungi dokter hewan atau klinik hewan terdekat. Situs ini tidak dapat menilai kondisi hewan Anda. Cara memilih dokter hewan

Dalam panduan ini (10)

Vaksin apa saja yang wajib untuk anjing?

Semua anjing di seluruh dunia membutuhkan vaksin inti yang melindungi dari distemper (CDV), hepatitis infeksius akibat adenovirus anjing (CAV), dan parvovirus (CPV-2), menurut pedoman WSAVA 2024. Di daerah endemis rabies, vaksin rabies juga menjadi vaksin inti, bahkan bila hukum tidak mewajibkannya. Vaksin leptospirosis dianggap inti di wilayah tempat leptospirosis anjing endemis, jenis bakterinya diketahui, dan vaksin yang sesuai tersedia. Vaksin inti modern memakai CAV-2, yang memberi perlindungan silang yang kuat terhadap CAV-1 penyebab hepatitis.

Vaksin non-inti diberikan sesuai risiko, misalnya bila anjing sering dititipkan, ikut pameran, atau tinggal bersama banyak anjing. Contohnya vaksin parainfluenza dan Bordetella bronchiseptica, dua penyebab penyakit pernapasan menular yang sering disebut kennel cough. Beberapa vaksin hanya relevan di wilayah tertentu, seperti vaksin penyakit Lyme, influenza anjing (saat ini berlisensi hanya di Amerika Serikat), dan leishmaniosis. WSAVA tidak menganjurkan vaksin coronavirus enterik anjing dan Giardia untuk anjing peliharaan. Diskusikan kebutuhan anjing Anda dengan dokter hewan.

Dasar informasi: WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗ · WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet dogs (2024 guidelines table) ↗

Kapan anak anjing harus divaksin?

Anak anjing biasanya mulai divaksin inti pada usia 6–8 minggu, lalu diulang setiap 2–4 minggu sampai berusia 16 minggu atau lebih. Antibodi dari induk, yang didapat lewat kolostrum, melindungi anak anjing pada minggu-minggu awal, tetapi juga bisa menghalangi kerja vaksin. Kadar antibodi ini berbeda-beda antar-anak anjing, sehingga vaksin diulang untuk memperpendek masa rentan. WSAVA tidak menganjurkan jarak vaksin kurang dari 2 minggu, dan menyebut dosis pada usia 16 minggu atau lebih sebagai dosis terpenting dalam seri ini.

Setelah itu, WSAVA menganjurkan vaksin ulang pada usia 26 minggu (sekitar 6 bulan) atau lebih, alih-alih menunggu sampai usia 12–16 bulan. Dosis ini melindungi sebagian kecil anak anjing yang antibodi induknya masih menghalangi vaksin pada usia 16 minggu. Jumlah total suntikan tergantung pada usia saat mulai dan jarak antardosis. Untuk anjing di atas 16 minggu yang belum pernah divaksin, satu dosis vaksin inti MLV atau rekombinan kemungkinan melindungi sebagian besar anjing, walau sebagian produsen menganjurkan dua dosis. Waktu vaksin rabies pertama mengikuti peraturan setempat.

Dasar informasi: WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗ · WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet dogs (2024 guidelines table) ↗

Berapa lama vaksin anjing bertahan dan kapan booster?

Setelah dosis usia 6 bulan, vaksin inti MLV untuk anjing umumnya diulang pada usia 3 tahun, lalu tidak lebih sering dari setiap 3 tahun. WSAVA menyebut banyak bukti bahwa vaksin inti modern memberi kekebalan selama bertahun-tahun, sehingga vaksin tidak perlu diberikan lebih sering daripada yang dibutuhkan. Sebagai alternatif, dokter hewan dapat menawarkan tes antibodi darah (serologi) untuk menilai apakah booster vaksin inti sudah diperlukan. Untuk anjing tua, WSAVA menyebut vaksin ulang setiap tiga tahun, atau mungkin lebih sering, dapat dipertimbangkan.

Vaksin non-inti, termasuk leptospirosis, parainfluenza, dan Bordetella, umumnya diulang setiap tahun karena kekebalannya bertahan sekitar satu tahun. Vaksin rabies diulang pada usia satu tahun atau satu tahun setelah vaksin pertama, lalu sesuai masa perlindungan yang tercantum pada produk, yaitu 1 atau 3 tahun, kecuali peraturan setempat menentukan lain. Jadwal persisnya bisa berbeda antarklinik. Catat tanggal booster di kartu vaksin, dan tetap datang untuk pemeriksaan kesehatan tahunan walaupun tidak ada vaksin yang jatuh tempo.

Dasar informasi: WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗ · WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet dogs (2024 guidelines table) ↗

Mengapa vaksin rabies anjing penting di Indonesia?

Anjing adalah sumber utama rabies pada manusia, dan WHO menyebut vaksinasi massal anjing sebagai cara paling hemat biaya untuk mencegah rabies pada manusia. Kemenkes mencatat sekitar 98% kasus rabies di Indonesia ditularkan lewat gigitan anjing. Menurut Surat Edaran Kemenkes tahun 2025, 26 dari 38 provinsi masih endemis rabies, dan sepanjang 2024 dilaporkan 185.359 kasus gigitan hewan penular rabies serta 122 kematian manusia. Karena rabies hampir selalu berakibat fatal setelah gejala muncul, pencegahan pada anjing sangat penting.

Kementerian Pertanian menyatakan bahwa bila lebih dari 70% populasi hewan rentan divaksin, penyebaran virus bisa ditekan, bahkan dihentikan. Vaksin rabies bisa didapat lewat program pemerintah, klinik hewan, maupun dokter hewan praktik mandiri. Di beberapa daerah, puskeswan dan dinas memberikan vaksinasi rabies gratis, misalnya di Kabupaten Buleleng dan Provinsi Bali. Minta kartu vaksin setiap kali anjing divaksin, simpan baik-baik, dan perbarui vaksin sesuai jadwal booster.

Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · Kemenkes — 8 dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies (2020) ↗ · Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗ · Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗ · Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng — Pelayanan Vaksinasi Rabies di Puskeswan Buleleng ↗ · Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗

Bolehkah anak anjing keluar rumah sebelum vaksinnya lengkap?

Boleh, dengan hati-hati: WSAVA mendukung sosialisasi dini dan menyebut sosialisasi dapat dimulai sebelum seri vaksin selesai, asalkan dalam kondisi terkendali. Sosialisasi penting untuk perkembangan perilaku yang sehat. Namun, anak anjing yang vaksinnya belum lengkap sebaiknya dijauhkan dari lingkungan luar yang mungkin tercemar, dan hanya bertemu anak anjing yang sehat atau anjing dewasa yang vaksinnya lengkap. Menurut WSAVA, penelitian menunjukkan risiko parvovirus bagi anak anjing yang mengikuti kelas sosialisasi dini yang dikelola dengan baik tergolong rendah.

Kehati-hatian ini penting karena parvovirus menular lewat kontak dengan feses yang mengandung virus, atau lewat benda dan lingkungan yang tercemar. Menurut MSD Veterinary Manual, anjing muda berusia 6 minggu sampai 6 bulan yang belum divaksin atau vaksinnya belum lengkap paling rentan. Gejala awalnya bisa berupa lesu, tidak mau makan, dan demam, lalu muntah dan diare yang sering berdarah. Distemper menular terutama lewat percikan cairan pernapasan dari anjing yang terinfeksi dan dapat menyerang saluran napas, pencernaan, serta saraf.

Dasar informasi: WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · MSD Veterinary Manual — Canine parvovirus ↗ · MSD Veterinary Manual — Canine distemper ↗

Apa efek samping vaksin anjing?

Sebagian besar anjing hanya mengalami reaksi ringan, seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan, lesu, kurang nafsu makan, demam, atau muntah sesekali. Reaksi yang lebih serius, seperti biduran dan anafilaksis, lebih jarang terjadi. Dalam satu studi di Jepang yang dikutip WSAVA, sebagian besar reaksi muncul dalam 12 jam setelah vaksin, dan semua kasus anafilaksis dimulai dalam 60 menit. WSAVA juga mencatat anjing kecil yang menerima beberapa vaksin sekaligus lebih berisiko mengalami reaksi akut.

Saat kunjungan vaksin, dokter hewan sebaiknya memeriksa kesehatan anjing secara menyeluruh dan membahas vaksin yang sesuai dengan gaya hidupnya. Beri tahu dokter hewan bila anjing sedang sakit, hamil, atau pernah bereaksi terhadap vaksin. Dokter hewan akan mencatat nama vaksin, nomor batch, tanggal, dan lokasi suntikan di rekam medis. Karena reaksi berat biasanya muncul cepat, tanyakan apakah Anda perlu menunggu sebentar di klinik setelah vaksin, dan segera hubungi dokter hewan bila ada perubahan yang mengkhawatirkan.

Dasar informasi: WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗

Sumber & referensi

  1. WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗
  2. WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗
  3. WSAVA — Core and non-core vaccines for pet dogs (2024 guidelines table) ↗
  4. MSD Veterinary Manual — Canine parvovirus ↗
  5. MSD Veterinary Manual — Canine distemper ↗
  6. WHO — Rabies fact sheet ↗
  7. Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗
  8. Kemenkes — 8 dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies (2020) ↗
  9. Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗
  10. Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng — Pelayanan Vaksinasi Rabies di Puskeswan Buleleng ↗
  11. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗
  12. MSD Veterinary Manual — Rabies in animals ↗

Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.

Kutip halaman ini

PanduanHewan. (2026, 25 September). Vaksin anjing: jenis, jadwal, dan booster. PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/kesehatan-hewan/vaksin-anjing/