Jawaban singkat
Poin penting
- Semua kucing membutuhkan vaksin inti yang melindungi dari panleukopenia, herpesvirus kucing, dan calicivirus kucing.
- Anak kucing mulai divaksin pada usia 6–8 minggu, diulang tiap 2–4 minggu hingga minimal 16 minggu, lalu sekali lagi sekitar usia 6 bulan.
- Kucing yang selalu di dalam rumah tetap perlu vaksin inti karena virus panleukopenia sangat tahan dan bisa terbawa masuk ke rumah.
- Di daerah endemis rabies, termasuk 26 dari 38 provinsi Indonesia menurut Kemenkes (2025), vaksin rabies dianggap vaksin inti untuk kucing.
- Minta dan simpan kartu vaksin, lalu tetap lakukan pemeriksaan kesehatan rutin, umumnya setahun sekali.
Kapan harus ke dokter hewan?
- Segera bawa ke dokter hewan jika anak kucing atau kucing yang vaksinnya belum lengkap muntah, diare, demam, sangat lesu, tidak mau makan, atau tampak dehidrasi (mata cekung, gusi kering).
- Segera ke dokter hewan jika tak lama setelah vaksin kucing tampak biduran, wajahnya bengkak, sulit bernapas, atau sangat lemas.
- Kucing bersin, keluar cairan dari mata atau hidung, atau ada luka di mulut; segera periksakan bila napasnya tampak cepat atau berat.
- Kucing lesu atau tidak mau makan setelah vaksin dan tidak segera membaik.
- Benjolan di bekas suntikan yang masih ada 3 bulan setelah vaksin, lebih besar dari 2 cm, atau masih membesar sebulan setelah vaksin.
- Kucing digigit anjing, kucing lain, atau hewan liar di daerah endemis rabies.
Hubungi dokter hewan atau klinik hewan terdekat. Situs ini tidak dapat menilai kondisi hewan Anda. Cara memilih dokter hewan
Dalam panduan ini (10)
Vaksin apa saja yang wajib untuk kucing?
Semua kucing membutuhkan vaksin inti yang melindungi dari panleukopenia (FPV), herpesvirus kucing (FHV-1), dan calicivirus kucing (FCV), menurut pedoman WSAVA 2024. WSAVA mendefinisikan vaksin inti sebagai vaksin yang harus diterima semua kucing di seluruh dunia. Di daerah endemis rabies, vaksin rabies juga dianggap vaksin inti, meskipun hukum tidak mewajibkannya. Di wilayah tempat leukemia kucing (FeLV) masih umum, vaksin FeLV dianggap inti untuk kucing di bawah satu tahun dan kucing dewasa yang keluar rumah atau tinggal bersama kucing yang keluar rumah.
Vaksin non-inti hanya dianjurkan bila lokasi atau gaya hidup kucing membuatnya berisiko, misalnya kucing yang keluar-masuk rumah atau tinggal bersama banyak kucing. Contohnya vaksin FIV, Chlamydia felis, dan Bordetella bronchiseptica. WSAVA mencatat vaksin FIV saat ini hanya tersedia di Asia, Australia, dan Selandia Baru, dan laporan efektivitasnya sangat beragam. Beberapa vaksin, seperti vaksin FIP, digolongkan tidak dianjurkan untuk kucing peliharaan. Putuskan perlu tidaknya vaksin non-inti bersama dokter hewan.
Dasar informasi: WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet cats (2024 guidelines table) ↗
Kapan kucing harus divaksin pertama kali?
Anak kucing biasanya mulai divaksin inti pada usia 6–8 minggu, lalu diulang setiap 2–4 minggu sampai berusia 16 minggu atau lebih. Jadwal berulang ini diperlukan karena antibodi dari induk, yang didapat lewat susu pertama, dapat menghalangi kerja vaksin. Kadar antibodi ini berbeda-beda antar-anak kucing, bahkan dalam satu kelahiran, sehingga tanpa tes darah tidak bisa ditebak kapan vaksin mulai efektif. Karena itu, dosis terakhir seri anak kucing sebaiknya diberikan pada usia 16 minggu atau lebih.
WSAVA juga menganjurkan satu dosis tambahan pada usia 26 minggu (sekitar 6 bulan) atau lebih, alih-alih menunggu sampai kucing berusia satu tahun. Dosis ini melindungi sebagian kecil anak kucing yang belum membentuk kekebalan sendiri pada usia 16 minggu. Jumlah total suntikan tergantung pada usia saat vaksin dimulai dan jarak antardosis. Jika biaya hanya memungkinkan satu kali vaksin, WSAVA menyarankan vaksin inti diberikan pada usia 16 minggu atau lebih. Kucing dewasa yang belum pernah divaksin umumnya diberi dua dosis dengan jarak 2–4 minggu.
Dasar informasi: WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗ · WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet cats (2024 guidelines table) ↗ · Cornell Feline Health Center — Feline panleukopenia virus ↗
Berapa kali kucing perlu vaksin booster?
Setelah seri anak kucing dan dosis usia 6 bulan, kucing berisiko rendah umumnya diberi booster vaksin inti pada usia 3 tahun, lalu tidak lebih sering dari setiap 3 tahun. Aturan ini berlaku untuk vaksin inti jenis virus hidup yang dilemahkan (MLV), yang menurut WSAVA memberi kekebalan selama bertahun-tahun. Kucing berisiko lebih tinggi, misalnya yang sering dititipkan di penitipan kucing atau berada di lingkungan padat dan penuh stres, mungkin perlu booster lebih sering, hingga setahun sekali. Vaksin inti tidak perlu diberikan lebih sering daripada yang dibutuhkan.
Jadwal vaksin non-inti berbeda. Menurut WSAVA, kekebalan dari sebagian besar vaksin non-inti bertahan sekitar satu tahun, sehingga vaksin ini biasanya diulang tiap tahun selama risikonya masih ada. Vaksin FeLV diulang satu tahun setelah seri awal, lalu disesuaikan dengan risiko paparan. Jadwal vaksin rabies mengikuti peraturan setempat atau petunjuk produk. Karena dokter hewan dapat memakai jadwal yang sedikit berbeda, catat tanggal booster berikutnya di kartu vaksin. WSAVA menekankan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin, umumnya tahunan, tetap penting walaupun tidak ada vaksin yang jatuh tempo.
Dasar informasi: WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet cats (2024 guidelines table) ↗
Apakah kucing rumahan perlu divaksin?
Ya, kucing yang selalu di dalam rumah tetap perlu vaksin inti. Cornell Feline Health Center menjelaskan bahwa virus panleukopenia ada di mana-mana dan hampir semua kucing akan terpapar suatu saat dalam hidupnya. Virus ini sangat tahan dan dapat bertahan di dalam ruangan selama berbulan-bulan tanpa disinfeksi yang tepat. Virus juga bisa terbawa lewat alas tidur, kotak pasir, mangkuk, serta tangan atau pakaian orang yang baru memegang kucing sakit. Karena itu, Cornell menganjurkan vaksin ini untuk semua kucing, termasuk yang tidak pernah keluar rumah.
Herpesvirus dan calicivirus, penyebab utama "flu kucing", juga sangat umum. Menurut Cornell, hingga 97% kucing terpapar herpesvirus sepanjang hidupnya. Vaksin tidak selalu mencegah infeksi kedua virus ini, tetapi mengurangi keparahan penyakit dan jumlah virus yang dikeluarkan kucing. Hal ini juga melindungi kucing lain di rumah yang sama. Anak kucing dan kucing yang belum divaksin paling berisiko sakit berat, terutama di tempat padat seperti penampungan, penitipan, dan koloni kucing liar.
Dasar informasi: Cornell Feline Health Center — Feline panleukopenia virus ↗ · Cornell Feline Health Center — Respiratory infections ↗
Apakah kucing perlu vaksin rabies di Indonesia?
Di daerah endemis rabies, ya: WSAVA menganjurkan semua kucing divaksin rabies untuk melindungi hewan dan manusia, meskipun hukum tidak mewajibkannya. Menurut Surat Edaran Kemenkes tahun 2025, 26 dari 38 provinsi di Indonesia masih endemis rabies. Kucing termasuk hewan penular rabies (HPR) bersama anjing dan kera. Kemenkes mencatat sekitar 98% kasus rabies di Indonesia ditularkan lewat gigitan anjing dan sekitar 2% lewat kucing dan kera. Karena itu, program vaksinasi rabies pemerintah di daerah endemis, misalnya di Bali, juga mencakup kucing.
Vaksin rabies untuk hewan bisa didapat lewat program pemerintah maupun klinik dan praktik dokter hewan, menurut Kementerian Pertanian. Beberapa puskeswan dan dinas, misalnya di Kabupaten Buleleng dan Provinsi Bali, melayani vaksinasi rabies gratis pada hari dan jam kerja. Bali juga memiliki Perda Nomor 15 Tahun 2009 tentang penanggulangan rabies. Menurut WSAVA, usia vaksin pertama dan jadwal booster mengikuti peraturan setempat terlebih dahulu, lalu petunjuk produk vaksin. Tanyakan kepada dokter hewan, puskeswan, atau dinas yang membidangi kesehatan hewan di daerah Anda.
Dasar informasi: WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet cats (2024 guidelines table) ↗ · Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗ · Kemenkes — 8 dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies (2020) ↗ · Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗ · Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗ · Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng — Pelayanan Vaksinasi Rabies di Puskeswan Buleleng ↗
Apa yang terjadi saat kucing divaksin di dokter hewan?
Vaksinasi sebaiknya menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan menyeluruh, bukan sekadar suntikan. WSAVA menganjurkan dokter hewan membahas kebutuhan vaksin sesuai usia, gaya hidup, dan lingkungan kucing, sekaligus memeriksa parasit, gigi, nutrisi, dan perilaku pada kunjungan yang sama. Sebelum vaksin FeLV, kucing perlu dites karena hanya kucing yang negatif FeLV yang boleh divaksin. Beri tahu dokter hewan bila kucing sedang sakit, hamil, atau pernah bereaksi terhadap vaksin, karena vaksin hidup tidak dianjurkan untuk kucing hamil.
Dokter hewan akan mencatat tanggal, nama dan nomor batch vaksin, serta lokasi suntikan di rekam medis. Mintalah kartu vaksin dan simpan baik-baik. WSAVA menganjurkan kartu atau sertifikat vaksin juga mencantumkan sampai kapan hewan diperkirakan terlindungi. Setelah vaksin, reaksi ringan seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan, lesu, kurang nafsu makan, demam, atau muntah sesekali cukup sering terjadi. Biduran dan reaksi alergi berat (anafilaksis) lebih jarang. Hubungi dokter hewan bila Anda ragu, dan laporkan setiap reaksi yang muncul.
Dasar informasi: WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗ · WSAVA — Core and non-core vaccines for pet cats (2024 guidelines table) ↗
Sumber & referensi
- WSAVA — 2024 Guidelines for the Vaccination of Dogs and Cats: Executive Summary ↗
- WSAVA — 2024 guidelines for the vaccination of dogs and cats (full text, Journal of Small Animal Practice) ↗
- WSAVA — Core and non-core vaccines for pet cats (2024 guidelines table) ↗
- Cornell Feline Health Center — Feline panleukopenia virus ↗
- Cornell Feline Health Center — Respiratory infections ↗
- Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies (PDF) ↗
- Kemenkes — 8 dari 34 Provinsi di Indonesia Bebas Rabies (2020) ↗
- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali — Vaksinasi Rabies Massal 2025 pada Hewan Penular Rabies (HPR) ↗
- Ditjen PKH Kementan (BVet Subang) — Gencar Vaksinasi Hewan Tertular, Indonesia Siap Bebas Rabies di Tahun 2030 ↗
- Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Buleleng — Pelayanan Vaksinasi Rabies di Puskeswan Buleleng ↗
- MSD Veterinary Manual — Rabies in animals ↗
Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.
Kutip halaman ini
PanduanHewan. (2026, 25 September). Vaksin kucing: jenis, jadwal, dan manfaatnya. PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/kesehatan-hewan/vaksin-kucing/