Nomor dan kontak penting
Nomor dan alamat diperiksa pada sumber resmi saat panduan diperbarui. PanduanHewan tidak menerima laporan atau mengirim bantuan. Daftar kantor BKSDA
Jawaban singkat
Poin penting
- Rabies disebabkan virus dan menular lewat air liur hewan terinfeksi, biasanya melalui gigitan, cakaran, atau kontak dengan luka dan selaput lendir.
- Di Indonesia, anjing, kucing, dan kera termasuk hewan utama penular rabies.
- Begitu gejala muncul, rabies hampir selalu fatal. Penanganan cepat setelah paparan dapat mencegah kematian.
- Jangan menunggu gejala atau menilai dari penampilan hewan. Tenaga kesehatan yang memutuskan perlu tidaknya vaksin.
Dalam panduan ini (9)
Mulai dari langkah ini
- Segera cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit.
- Segera ke puskesmas, rumah sakit, atau Rabies Center terdekat, walaupun lukanya tampak kecil. Hubungi 119 bila lukanya parah.
- Catat waktu dan tempat kejadian, jenis hewan, pemiliknya, status vaksin rabies hewan bila diketahui, dan jenis kontaknya.
- Sampaikan kepada petugas kesehatan di mana hewan itu berada agar dapat diobservasi oleh dinas yang membidangi kesehatan hewan.
- Jangan mencoba menangkap hewan liar atau tak berpemilik sendiri.
- Bila diberi vaksin, ikuti jadwal dari tenaga kesehatan sampai selesai.
Rabies itu virus atau bakteri, dan menular lewat apa?
Rabies adalah penyakit menular akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan virus (Lyssavirus), bukan bakteri. WHO menjelaskan virus menyebar lewat air liur, biasanya melalui gigitan, cakaran, atau kontak langsung dengan selaput lendir seperti mata, mulut, atau luka terbuka. Rabies dapat menginfeksi mamalia, termasuk anjing, kucing, ternak, dan satwa liar.
Kemenkes menyebut hewan utama penular rabies adalah anjing, kucing, kera, dan kelelawar. Hewan liar dan hewan peliharaan yang tidak divaksin rabies lebih berisiko menularkan.
Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · Kemenkes Ditjen Kesehatan Lanjutan — Mengenal penyakit rabies ↗
Apa yang harus dilakukan setelah digigit atau dicakar hewan?
WHO menyatakan orang yang digigit atau dicakar hewan yang mungkin rabies harus segera mencuci luka dengan air dan sabun setidaknya 15 menit, lalu mencari pertolongan medis. Kemenkes meminta masyarakat segera mencuci luka gigitan dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit, kemudian mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan Vaksin Anti Rabies (VAR) sesegera mungkin.
Pencucian luka tidak menggantikan pemeriksaan. Surat edaran Kemenkes 2025 menyebut puskesmas, rumah sakit, dan Rabies Center sebagai fasilitas layanan kasus gigitan. Tanyakan ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat di mana Rabies Center terdekat.
Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · Kemenkes — Kemenkes urges stronger rabies prevention (2025) ↗ · Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies ↗
Apakah saya pasti perlu vaksin anti rabies?
Keputusan ada pada tenaga kesehatan. WHO membagi kontak ke dalam tiga kategori. Menyentuh atau memberi makan hewan dan jilatan pada kulit utuh tidak dianggap paparan. Gigitan kecil pada kulit terbuka atau cakaran tanpa darah memerlukan vaksin. Gigitan atau cakaran yang menembus kulit, atau air liur yang mengenai selaput lendir atau kulit luka, memerlukan vaksin dan, bila diindikasikan, imunoglobulin rabies.
Surat edaran Kemenkes menyebut vaksin hanya dapat ditunda bila semua syarat terpenuhi, antara lain hewan tampak sehat, berpemilik, divaksin rutin dalam setahun terakhir, dan dapat diobservasi 14 hari. Karena itu, jangan memutuskan sendiri dari penampilan hewan.
Dasar informasi: WHO — Rabies fact sheet ↗ · Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies ↗
Apa yang terjadi dengan anjing atau kucing yang menggigit?
Menurut surat edaran Kemenkes, hewan yang menggigit dapat diobservasi selama 14 hari oleh dinas yang membidangi kesehatan hewan. Bila hewan menunjukkan gejala rabies atau mati, dinas tersebut menghubungi dinas kesehatan agar korban segera divaksin.
Kemenkes menyebut tanda rabies pada hewan bervariasi, antara lain perubahan perilaku, mencari tempat dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda bergerak, air liur berlebihan, kejang, dan lumpuh. Jangan mendekati hewan seperti itu; laporkan lokasinya kepada petugas.
Dasar informasi: Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies ↗ · Kemenkes — Ini yang harus dilakukan jika digigit hewan penular rabies (2019) ↗
Seberapa besar risiko rabies di Indonesia?
Surat edaran Kemenkes Maret 2025 mencatat 26 dari 38 provinsi endemis rabies, serta 185.359 kasus gigitan hewan penular rabies dan 122 kematian pada 2024. WHO menegaskan rabies hampir 100% fatal begitu gejala klinis muncul. Masa inkubasinya biasanya 2–3 bulan, tetapi dapat berkisar dari satu minggu hingga satu tahun, jadi jangan menunggu gejala.
Pencegahan utama ada di sumbernya: Kemenkes menegaskan pemilik hewan peliharaan wajib memberikan vaksinasi rabies secara rutin.
Dasar informasi: Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies ↗ · WHO — Rabies fact sheet ↗ · Kemenkes — Kemenkes urges stronger rabies prevention (2025) ↗
Sumber & referensi
- WHO — Rabies fact sheet ↗
- Kemenkes — Kemenkes urges stronger rabies prevention (2025) ↗
- Kemenkes — Surat Edaran HK.02.02/C/508/2025 tentang Kewaspadaan terhadap Kasus Rabies ↗
- Kemenkes Ditjen Kesehatan Lanjutan — Mengenal penyakit rabies ↗
- Kemenkes — Ini yang harus dilakukan jika digigit hewan penular rabies (2019) ↗
- Kemenkes — Public Safety Center (PSC) 119 ↗
Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli. Cara kami menggunakan sumber dan data →
Rujuk halaman ini
Cantumkan PanduanHewan saat merujuk halaman ini. Periksa sumber bukti asli sebelum menggunakan kembali suatu klaim.
PanduanHewan. Dugaan Paparan Rabies. Pembaruan substansial terakhir: 1 Oktober 2026. https://panduanhewan.org/id/darurat/dugaan-paparan-rabies/