Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

PANDUANHEWAN · INDONESIA

Cara hewan melindungi diri: kamuflase, mimikri, dan autotomi

Cara hewan melindungi diri dari musuh: kamuflase, mimikri, autotomi, duri, racun, bisa, tinta, dan pura-pura mati, dengan contoh hewan Indonesia.

Pengayaan

Jawaban singkat

Inti materinya

Hewan melindungi diri dari pemangsa dengan kamuflase, mimikri, autotomi, pelindung tubuh seperti sisik dan duri, racun atau bisa, warna peringatan, bau atau tinta, dan pura-pura mati. Contohnya, cicak memutus ekornya (autotomi) dan trenggiling menggulung tubuhnya.

  • Kamuflase berarti membaur dengan lingkungan, sedangkan mimikri berarti tampak mirip makhluk lain.
  • Berubah warna agar membaur dengan latar belakang termasuk kamuflase, bukan mimikri; bunglon Indonesia juga bukan kameleon sejati.
  • Autotomi adalah melepas sendiri bagian tubuh, seperti ekor cicak atau capit kepiting; ekor yang tumbuh lagi tidak sama persis.
  • Hewan beracun berbahaya bila disentuh atau dimakan, sedangkan hewan berbisa menyuntikkan racun lewat gigitan atau sengatan.
  • Trenggiling menggulung tubuhnya, landak menggetarkan duri, cumi-cumi menyemburkan tinta, dan beberapa ular pura-pura mati.
  • Amati hewan dari jauh; jangan menangkap, menyentuh, atau menarik ekor hewan.
Untuk guru: materi ini dilengkapi 10 latihan soal dengan pembahasan dan LKPD siap cetak dengan kunci jawaban. LKPD cara hewan melindungi diri (dengan kunci jawaban)

Bagaimana cara hewan melindungi diri dari musuh?

Hewan melindungi diri dari pemangsa dengan menyamar, meniru hewan lain, melepas bagian tubuh, memakai pelindung tubuh, racun atau bisa, warna peringatan, bau atau tinta, dan pura-pura mati.

Hubungan antara pemangsa dan mangsa disebut predasi, yaitu interaksi ketika satu makhluk hidup memangsa makhluk hidup lain. Cara-cara melindungi diri membantu mangsa lolos dari predasi.

Banyak hewan memakai lebih dari satu cara. Trenggiling, misalnya, menggulung tubuhnya. Bila gulungannya berhasil dibuka, ia menyemprotkan cairan berbau busuk sebagai pertahanan terakhir.

Sebagian cara berupa ciri tubuh, misalnya sisik trenggiling dan warna tubuh yang menyamar. Sebagian lagi berupa tingkah laku, misalnya menggulung tubuh, menyemprotkan cairan, dan pura-pura mati.

Tabel berikut merangkum delapan cara utama beserta contoh hewan Indonesia. Bagian selanjutnya menjelaskan setiap cara dengan sumbernya.

Delapan cara hewan melindungi diri dan contohnya di Indonesia
CaraArti singkatContoh hewan Indonesia
KamuflaseWarna atau bentuk tubuh membaur dengan lingkunganKuda laut
MimikriTampak mirip makhluk lain yang berbahaya atau tidak enak dimakanBetina kupu-kupu pastur (Papilio memnon)
AutotomiMelepas sendiri bagian tubuh agar bisa kaburCicak (ekor), kepiting (capit)
Pelindung tubuh dan menggulungSisik, duri, atau cangkang menjadi perisaiTrenggiling, landak Jawa
Racun dan bisaRacun bekerja saat disentuh atau dimakan; bisa disuntikkan lewat gigitan atau sengatanBangkong kolong (racun), kobra Jawa (bisa)
Warna peringatan (aposematisme)Warna mencolok sebagai tanda bahayaGurita cincin biru
Bau dan tintaCairan berbau atau tinta untuk mengusir atau mengecohMusang luwak, trenggiling, cumi-cumi
Pura-pura mati (tanatosis)Diam seperti mati setelah ditangkap atau disentuhUlar Coelognathus radiatus

Dasar informasi: Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Bab VI Ekologi dan Pelestarian Lingkungan, hlm. 171 ↗ · Animal Diversity Web: Manis javanica (trenggiling Sunda) ↗

Apa perbedaan mimikri dan kamuflase?

Kamuflase membuat hewan membaur dengan lingkungannya sehingga sulit terlihat, sedangkan mimikri membuat hewan tampak mirip makhluk lain, biasanya yang berbahaya atau tidak enak dimakan.

Kamuflase disebut juga penyamaran. Hewan yang berkamuflase memiliki rupa atau perilaku yang cocok dengan sebagian lingkungannya. Kuda laut, misalnya, dapat mengubah warna dan pola tubuhnya untuk sementara agar serasi dengan sekitarnya dan terhindar dari pemangsa.

Mimikri berarti meniru atau tampak mirip organisme lain. Contoh dari Indonesia adalah kupu-kupu pastur (Papilio memnon). Sebagian betinanya bercorak mirip kupu-kupu lain yang tidak enak dimakan, sedangkan jantannya tidak meniru.

Jenis ini disebut mimikri Bates: hewan yang sebenarnya enak dimakan lebih jarang dimangsa karena mirip hewan yang tidak enak dimakan. Pemangsa belajar menghindari corak itu.

Perubahan warna bunglon kadang disebut mimikri. Dalam biologi, membaur dengan latar belakang disebut kamuflase, sedangkan mimikri dipakai untuk kemiripan dengan makhluk lain.

Perbandingan kamuflase dan mimikri
AspekKamuflaseMimikri
Yang ditiruLatar belakang: daun, batang, pasir, karangMakhluk hidup lain
TujuanTidak terlihat oleh pemangsaTerlihat, tetapi disangka hewan lain
Contoh IndonesiaKuda lautBetina kupu-kupu pastur
Kesalahan umumDisebut mimikriDisamakan dengan perubahan warna
  • Kuda laut Hippocampus kuda — Mengubah warna dan pola tubuh agar serasi dengan sekitarnya (kamuflase). sumber ↗
  • Kupu kupu pastur Papilio memnon — Sebagian betina meniru corak kupu-kupu yang tidak enak dimakan (mimikri Bates). sumber ↗

Dasar informasi: BioEd Online (Baylor College of Medicine): Mimicry and Camouflage ↗ · Animal Diversity Web: Hippocampus kuda (spotted seahorse) ↗ · Scientific Reports (2017): Temporal dynamics of the mimetic allele frequency at the doublesex locus, which controls polymorphic Batesian mimicry in Papilio memnon butterflies ↗

Apakah bunglon sama dengan kameleon, dan mengapa warnanya berubah?

Bunglon Indonesia bukan kameleon sejati: bunglon surai dan bunglon taman termasuk suku Agamidae, dan perubahan warnanya tidak selalu untuk menyamar. Kameleon sejati termasuk suku Chamaeleonidae. Nama umum yang mirip tidak berarti kelompok ilmiahnya sama.

Bunglon surai tercatat di banyak pulau Indonesia, antara lain Jawa, Bali, Sulawesi, Nias, dan Kalimantan.

Kameleon sejati hidup terutama di Madagaskar dan Afrika. Beberapa jenis juga ada di Spanyol selatan, Jazirah Arab, India, dan Sri Lanka. Indonesia tidak termasuk daerah sebaran alaminya.

Perubahan warna tidak selalu untuk menyamar. Penelitian pada kameleon kerdil di Afrika selatan menemukan bahwa kemampuan berubah warna yang besar berkaitan dengan sinyal yang mencolok saat jantan bertarung dan saat mencari pasangan. Pada bunglon taman, jantan yang sedang berbiak tubuhnya kemerahan dengan kantong leher merah bata.

Jadi, perubahan warna dapat memiliki beberapa fungsi. Bukti tentang kameleon tidak boleh langsung diterapkan kepada semua kadal yang disebut bunglon di Indonesia.

Dasar informasi: The Reptile Database: Bronchocela jubata ↗ · Animal Diversity Web: Chamaeleonidae (chameleons) ↗ · Stuart-Fox & Moussalli (2008), PLoS Biology: Selection for social signalling drives the evolution of chameleon colour change ↗ · The Reptile Database: Calotes versicolor ↗

Apa itu autotomi? Contoh hewan autotomi selain cicak

Autotomi adalah kemampuan hewan melepaskan sendiri bagian tubuhnya untuk lolos dari pemangsa; cicak memutus ekornya, sedangkan kepiting melepas capitnya.

Cicak rumah punya banyak pemangsa, antara lain kucing, burung, ular, tikus, anjing, laba-laba besar, belalang sembah, dan kadal yang lebih besar.

Cicak rumah dapat melepaskan ekornya ketika dipegang atau terancam. Ekor yang lepas terus menggeliat dan sering mengalihkan perhatian pemangsa, sehingga cicak sempat kabur.

Autotomi juga dimiliki banyak hewan lain. Kadal melepas ekor, jangkrik melepas kaki, dan kepiting melepas capit. Bintang laut juga dapat melepas lengannya.

Ekor cicak memang dapat tumbuh lagi, tetapi tidak sama persis dengan aslinya. Pada kadal, ruas-ruas tulang ekor yang asli digantikan oleh tabung tulang rawan yang tidak berubah menjadi tulang.

Jadi, kalimat "ekor tumbuh lagi seperti semula" di beberapa buku perlu diluruskan: bentuk luarnya mirip, tetapi isinya berbeda.

Jangan pernah menangkap cicak atau menarik ekornya untuk membuktikan autotomi. Cukup amati cicak dari jauh, misalnya cicak yang ekornya tampak lebih pendek atau berbeda warna.

  • Cicak rumah Hemidactylus frenatus — Melepas ekor yang terus menggeliat untuk mengalihkan pemangsa. sumber ↗

Dasar informasi: Animal Diversity Web: Hemidactylus frenatus (cicak rumah) ↗ · Emberts et al. (2017), Behavioral Ecology: Cut your losses: self-amputation of injured limbs increases survival (PMC) ↗ · Cartilage and Muscle Cell Fate and Origins during Lizard Tail Regeneration (Frontiers in Bioengineering and Biotechnology, PMC) ↗

Bagaimana trenggiling dan landak melindungi diri?

Trenggiling menggulung tubuhnya menjadi bola bersisik, sedangkan landak menggetarkan durinya sebagai peringatan, lalu berlari mundur ke arah musuh bila ancaman berlanjut.

Trenggiling Sunda mula-mula mengibaskan ekornya dengan sisik yang tegak. Bila ancaman tidak pergi, ia menggulung rapat sehingga perutnya yang lunak berada di bagian dalam. Induk trenggiling yang terancam bahkan menggulung tubuh dengan anaknya aman di dalam gulungan.

Duri landak dari suku Hystricidae berderak ketika digetarkan. Bunyi ini menjadi peringatan bagi pemangsa. Bila tidak berhasil, landak dapat menyerang mundur ke arah pemangsa.

Landak tidak dapat menembakkan durinya. Durinya hanya melekat longgar, sehingga mudah lepas dan menancap pada kulit hewan yang menyentuhnya.

Bintang laut mahkota duri dari terumbu karang memiliki perisai berupa duri berbisa. Sengatannya dapat menimbulkan nyeri, muntah berkepanjangan, kemerahan, dan bengkak.

Dasar informasi: Animal Diversity Web: Manis javanica (trenggiling Sunda) ↗ · Animal Diversity Web: Hystricidae (landak Dunia Lama) ↗ · Lee et al. (2013), Hemolytic activity of venom from crown-of-thorns starfish Acanthaster planci spines (PMC) ↗

Hewan apa yang melindungi diri dengan racun, bisa, atau warna peringatan?

Bangkong kolong memakai racun, kobra Jawa dan kukang Jawa memakai bisa, sedangkan gurita cincin biru memamerkan warna peringatan dan juga berbisa.

Racun dan bisa berbeda. Hewan berbisa menyuntikkan zat racunnya lewat gigi, kelenjar di mulut, atau sengat. Hewan beracun berbahaya bila disentuh atau dimakan.

Racun biasanya dipakai untuk bertahan atau membuat pemangsa jera, sedangkan bisa dapat dipakai untuk bertahan maupun berburu.

Bangkong kolong termasuk hewan beracun. Kodok dari suku Bufonidae menghasilkan campuran racun yang sangat kuat bagi jantung.

Kobra Jawa termasuk hewan berbisa. Nama ilmiahnya, Naja sputatrix, berarti penyembur, karena ular ini dapat menyemburkan bisa.

Kukang Jawa termasuk sedikit mamalia berbisa. Saat terancam, kukang membuat bisa dari air liur dan cairan kelenjar di lengan atasnya.

Warna mencolok yang memberi tanda bahaya disebut warna peringatan atau aposematisme. Gurita cincin biru memiliki cincin biru terang yang diduga menjadi warna peringatan dan tampak menyala saat ia terganggu. Alih-alih membuat tinta, gurita ini mengandalkan bisa berupa zat seperti tetrodotoksin pada ikan buntal, yang dibuat oleh bakteri di kelenjar ludahnya.

Amati hewan melalui gambar atau dari jarak aman. Hewan liar tidak diperlukan sebagai alat percobaan untuk mempelajari pertahanan diri.

Dasar informasi: Australian Museum: Venomous vs. Poisonous ↗ · Natural History Museum (London): Bite or be bitten: What is the difference between poison and venom? ↗ · Dufresnes et al. (2025), Nature Communications: Speciation and historical invasions of the Asian black-spined toad (PMC) ↗ · The Reptile Database: Naja sputatrix (kobra Jawa) ↗ · Barrett et al. (2021), Toxins: Risky Business: The Function of Play in a Venomous Mammal - The Javan Slow Loris (PMC) ↗ · Animal Diversity Web: Hapalochlaena lunulata (gurita cincin biru) ↗

Hewan apa yang mengeluarkan bau, tinta, atau pura-pura mati?

Musang luwak, trenggiling, dan teledu mengeluarkan cairan berbau; cumi-cumi menyemburkan tinta; beberapa ular pura-pura mati ketika terancam atau tertangkap.

Musang luwak memiliki kelenjar bau dalam kantong di bawah kulit perutnya. Kelenjar ini dipakai untuk menyemprot saat bertahan, menandai wilayah, dan berkomunikasi dengan sesamanya.

Teledu atau sigung (Mydaus javanensis) hidup di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Kepulauan Natuna. Saat terancam, ia mengangkat ekor dan menyemburkan cairan hijau seperti susu yang sangat bau.

Cumi-cumi sirip besar (Sepioteuthis lessoniana) hidup di perairan Indo-Pasifik. Hewan ini memiliki kantong tinta yang dapat melepaskan awan tinta gelap untuk membingungkan pemangsa.

Gurita juga dapat menyemprotkan tinta hitam saat terancam. Pada gurita besar biru (Octopus cyanea) dari Samudra Hindia dan Pasifik, tinta menghalangi penglihatan dan penciuman pemangsa sehingga gurita bisa kabur.

Pura-pura mati disebut tanatosis. Hewan biasanya melakukannya pada tahap akhir serangan, sering setelah tubuhnya disentuh pemangsa. Diam seperti mati diduga membuat pemangsa berhenti menyerang karena mangsa tampak sudah tidak perlu dilumpuhkan lagi.

Contohnya ular Coelognathus radiatus, yang hidup di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Bali. Saat terancam, ular ini dapat memipihkan tubuh bagian depan, membuka mulut, mendesis, mematuk, atau pura-pura mati.

Dasar informasi: Animal Diversity Web: Paradoxurus hermaphroditus (musang luwak) ↗ · Animal Diversity Web: Mydaus javanensis (teledu) ↗ · Animal Diversity Web: Sepioteuthis lessoniana (cumi-cumi sirip besar) ↗ · Animal Diversity Web: Octopus cyanea (gurita besar biru) ↗ · Humphreys & Ruxton (2018), Behavioral Ecology and Sociobiology: A review of thanatosis (death feigning) as an anti-predator behaviour (PMC) ↗ · Giri et al. (2020), Reptiles & Amphibians 27(2): Death-feigning behavior by Copper-headed Trinket Snakes, Coelognathus radiatus ↗ · The Reptile Database: Coelognathus radiatus ↗

Istilah cara hewan melindungi diri untuk TTS dan soal

Istilah kunci untuk TTS dan soal adalah autotomi, kamuflase, mimikri, aposematisme, dan tanatosis; tabel di bawah memuat arti dan jumlah hurufnya.

Cara cicak melindungi diri dengan memutuskan ekornya disebut autotomi. Hewan yang membaur dengan latar belakangnya melakukan kamuflase, sedangkan hewan yang tampak mirip makhluk lain melakukan mimikri.

Perhatikan kata kerja dalam soal. Kata membaur atau menyamar mengarah ke kamuflase. Kata meniru atau mirip hewan lain mengarah ke mimikri.

Contoh soal: hewan yang warna tubuhnya membaur dengan tempat hinggapnya melakukan .... Jawabannya kamuflase. Ular yang diam seperti mati setelah disentuh pemangsa melakukan .... Jawabannya tanatosis.

Istilah, arti, dan jumlah huruf (untuk TTS)
IstilahArtiJumlah huruf
AUTOTOMIMelepas sendiri bagian tubuh, misalnya ekor cicak8
KAMUFLASEMembaur dengan lingkungan9
MIMIKRITampak mirip makhluk lain7
APOSEMATISMEWarna atau tanda peringatan12
TANATOSISPura-pura mati9
PREDASIHubungan pemangsa dan mangsa7
BISARacun yang disuntikkan lewat gigitan atau sengatan4
TINTACairan gelap cumi-cumi untuk mengecoh pemangsa5

Dasar informasi: BioEd Online (Baylor College of Medicine): Mimicry and Camouflage ↗ · Humphreys & Ruxton (2018), Behavioral Ecology and Sociobiology: A review of thanatosis (death feigning) as an anti-predator behaviour (PMC) ↗

Miskonsepsi yang sering muncul

Anggapan: Bunglon yang mengubah warna sesuai tempatnya melakukan mimikri.

Faktanya: Membaur dengan latar belakang disebut kamuflase. Mimikri berarti tampak mirip makhluk lain, seperti betina kupu-kupu pastur yang mirip kupu-kupu yang tidak enak dimakan. sumber ↗

Anggapan: Bunglon di Indonesia adalah kameleon.

Faktanya: Bunglon surai termasuk suku Agamidae. Kameleon sejati termasuk Chamaeleonidae dan secara alami hidup terutama di Madagaskar dan Afrika. sumber ↗

Anggapan: Kameleon berubah warna hanya untuk menyamar.

Faktanya: Perubahan warna juga dipakai untuk sinyal. Pada kameleon kerdil, kemampuan berubah warna yang besar berkaitan dengan sinyal saat jantan bertarung dan mencari pasangan. sumber ↗

Anggapan: Ekor cicak yang putus akan tumbuh lagi persis seperti semula.

Faktanya: Ekor tumbuh lagi, tetapi ruas tulang ekor diganti tabung tulang rawan, sehingga ekor baru tidak sama persis. sumber ↗

Anggapan: Landak bisa menembakkan durinya ke arah musuh.

Faktanya: Duri landak tidak dapat ditembakkan. Duri itu melekat longgar sehingga mudah lepas dan menancap saat disentuh. sumber ↗

Latihan soal cara hewan melindungi diri dan pembahasannya

Pilih jawabanmu, lalu buka “Lihat jawaban” untuk memeriksanya.

  1. Cicak melindungi diri dengan cara memutuskan ekornya. Cara ini disebut ....

    • A mimikri
    • B autotomi
    • C kamuflase
    • D tanatosis
    Lihat jawaban

    Jawaban: B. autotomi. Autotomi adalah melepas sendiri bagian tubuh. Ekor yang lepas menggeliat dan mengalihkan perhatian pemangsa.

  2. Kuda laut mengubah warna dan pola tubuhnya agar serasi dengan sekitarnya. Cara ini disebut ....

    • A autotomi
    • B mimikri
    • C aposematisme
    • D kamuflase
    Lihat jawaban

    Jawaban: D. kamuflase. Membaur dengan lingkungan disebut kamuflase. Mimikri berarti mirip makhluk lain.

  3. Contoh mimikri yang tepat adalah ....

    • A betina kupu-kupu pastur yang mirip kupu-kupu yang tidak enak dimakan
    • B bunglon yang berubah warna di batang kayu
    • C cicak yang melepas ekornya
    • D trenggiling yang menggulung tubuhnya
    Lihat jawaban

    Jawaban: A. betina kupu-kupu pastur yang mirip kupu-kupu yang tidak enak dimakan. Mimikri adalah tampak mirip makhluk lain. Bunglon yang membaur dengan batang kayu melakukan kamuflase.

  4. Bunglon surai dan bunglon taman di Indonesia termasuk suku ....

    • A Chamaeleonidae
    • B Gekkonidae
    • C Agamidae
    • D Varanidae
    Lihat jawaban

    Jawaban: C. Agamidae. Keduanya termasuk Agamidae. Kameleon sejati (Chamaeleonidae) tidak hidup alami di Indonesia.

  5. Bagaimana cara trenggiling melindungi diri dari pemangsa?

    • A menyemburkan tinta
    • B menggulung tubuh menjadi bola bersisik
    • C melepas ekornya
    • D mengubah warna kulit
    Lihat jawaban

    Jawaban: B. menggulung tubuh menjadi bola bersisik. Trenggiling menggulung rapat sehingga perutnya yang lunak berada di dalam. Bila gulungannya berhasil dibuka, ia menyemprotkan cairan berbau.

  6. Pernyataan yang benar tentang duri landak adalah ....

    • A duri bisa ditembakkan ke musuh
    • B duri tidak pernah lepas
    • C duri berbisa seperti ular
    • D duri melekat longgar dan mudah menancap saat disentuh
    Lihat jawaban

    Jawaban: D. duri melekat longgar dan mudah menancap saat disentuh. Duri landak tidak dapat ditembakkan. Duri itu mudah lepas dan menancap pada hewan yang menyentuhnya.

  7. Hewan berbisa berbeda dari hewan beracun karena hewan berbisa ....

    • A menyuntikkan racun lewat gigitan atau sengatan
    • B hanya berbahaya bila dimakan
    • C selalu berwarna cerah
    • D tidak pernah menyerang
    Lihat jawaban

    Jawaban: A. menyuntikkan racun lewat gigitan atau sengatan. Bisa disuntikkan lewat gigi, kelenjar mulut, atau sengat. Racun bekerja ketika hewan disentuh atau dimakan.

  8. Warna cincin biru terang pada gurita cincin biru adalah contoh ....

    • A kamuflase
    • B autotomi
    • C warna peringatan (aposematisme)
    • D tanatosis
    Lihat jawaban

    Jawaban: C. warna peringatan (aposematisme). Cincin biru diduga menjadi warna peringatan yang tampak menyala saat gurita terganggu.

  9. Hewan yang mengeluarkan tinta hitam ketika dikejar musuhnya adalah ....

    • A landak
    • B musang luwak
    • C kuda laut
    • D cumi-cumi
    Lihat jawaban

    Jawaban: D. cumi-cumi. Cumi-cumi memiliki kantong tinta. Awan tinta gelap membingungkan pemangsa.

  10. Ular yang diam seperti mati setelah disentuh pemangsa sedang melakukan ....

    • A tanatosis
    • B mimikri
    • C kamuflase
    • D autotomi
    Lihat jawaban

    Jawaban: A. tanatosis. Pura-pura mati disebut tanatosis, biasanya dilakukan pada tahap akhir serangan.

Untuk guru: tujuan dan kegiatan pembelajaran

Tujuan pembelajaran

  • Peserta didik dapat menjelaskan delapan cara hewan melindungi diri beserta contoh hewan Indonesia.
  • Peserta didik dapat membedakan kamuflase dan mimikri dengan tepat.
  • Peserta didik dapat menjelaskan autotomi dan membedakan hewan beracun dengan hewan berbisa.
  • Peserta didik dapat menjelaskan alasan mengamati hewan dari jarak aman tanpa menyentuhnya.

Ide kegiatan kelas (sekitar 70 menit)

  1. Kartu sortir: kelompok memasangkan 12 kartu gambar hewan Indonesia dengan cara melindungi dirinya, lalu menjelaskan alasannya.
  2. Permainan cari aku: guru menempelkan potongan kertas berbentuk serangga berwarna hijau dan cokelat pada poster daun; siswa menghitung yang terlihat dalam 30 detik untuk memahami kamuflase.
  3. Diagram Venn: kelompok membandingkan kamuflase dan mimikri memakai contoh kuda laut dan kupu-kupu pastur, lalu membahas mengapa perubahan warna bunglon tidak termasuk mimikri.
  4. Pengamatan cicak dari jauh di rumah atau sekolah: catat tempat, warna, dan bentuk ekor tanpa mengejar, menangkap, atau menyentuh cicak.

Bahan: Kartu gambar hewan (cetak atau gambar tangan), Kertas warna, gunting, dan lem, Poster bergambar daun, LKPD cara hewan melindungi diri.

Catatan pengayaan

  • Pengayaan. Materi ini merupakan pengayaan. Tidak ada klaim kesesuaian bab atau capaian pembelajaran khusus untuk topik ini. Keputusan Kepala BSKAP 046/H/KR/2025 dipakai hanya sebagai rujukan pemeriksaan ruang lingkup. Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 ↗

Boleh dicetak dan diperbanyak untuk pembelajaran nonkomersial dengan menyebut PanduanHewan.org sebagai sumber.

Pertanyaan umum

Cara hewan melindungi diri dengan memutuskan ekornya disebut apa?

Disebut autotomi. Cicak rumah melepas ekornya saat dipegang atau terancam, dan ekor yang menggeliat mengalihkan perhatian pemangsa.

Apa contoh hewan mimikri selain bunglon?

Mimikri berarti kemiripan dengan makhluk lain. Contohnya sebagian betina kupu-kupu pastur yang menyerupai kupu-kupu tidak enak dimakan. Membaur dengan latar belakang disebut kamuflase.

Apakah cicak melakukan mimikri?

Contoh pertahanan cicak rumah yang dibahas di sini adalah autotomi, yaitu melepas ekor. Pelepasan ekor tidak termasuk mimikri.

Apa contoh kamuflase selain bunglon?

Kuda laut dapat mengubah warna dan pola tubuhnya agar serasi dengan sekitarnya. Ini membantu menyamarkan tubuhnya dari pemangsa.

Hewan apa yang mengeluarkan tinta hitam ketika dikejar musuhnya?

Cumi-cumi sirip besar dapat mengeluarkan awan tinta gelap yang membingungkan pemangsa. Gurita besar biru juga dapat melepaskan tinta saat terancam.

Apakah bunglon sama dengan kameleon?

Tidak. Bunglon Indonesia, seperti bunglon surai, termasuk suku Agamidae. Kameleon sejati termasuk Chamaeleonidae dan hidup terutama di Madagaskar dan Afrika.

Contoh hewan dalam materi ini

Catatan: Jawa Barat, DI Yogyakarta, Bali
Hemidactylus frenatus

Cicak rumah (Hemidactylus frenatus). Cicak rumah Asia sering hidup pada bangunan dan berburu serangga di sekitar lampu; identifikasi perlu membedakannya dari cicak berekor gepeng.

Sumatera, Jawa, dan Kalimantan
Manis javanica

Mamalia bersisik pemakan semut dan rayap yang terancam perdagangan ilegal. Kebiasaan memanjat dan bersembunyi membuat pengamatan langsungnya sulit.

Catatan: Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat
Hystrix javanica

Landak Jawa (Hystrix javanica). Landak Jawa adalah pengerat berduri asli Indonesia yang dilaporkan di Jawa dan beberapa pulau sekitar; hewan ini endemik Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara serta terutama hidup di dataran rendah, termasuk habitat sekunder dan terdegradasi.

Sumatera dan Kalimantan
Hystrix brachyura

Landak raya (Hystrix brachyura) adalah hewan pengerat besar berduri dari Sumatera dan Kalimantan yang aktif malam hari dan banyak diburu untuk diperdagangkan.

Perairan pesisir Indonesia, antara lain Bintan (Kepulauan Riau) dan Teluk Lampung
Hippocampus kuda

Kuda laut (Hippocampus kuda) adalah ikan kecil berkepala mirip kuda yang jantannya mengandung anak; hidup di lamun dan muara, dan banyak diperdagangkan.

Catatan: Jawa Barat, Bali, Jawa Tengah
Papilio memnon

Kupu kupu pastur (Papilio memnon). Kupu-kupu pastur besar memiliki betina dengan beberapa bentuk warna, termasuk bentuk yang meniru spesies lain; jangan mengira semua bentuk adalah takson berbeda.

Sumber dan referensi

  1. Keputusan Kepala BSKAP No. 046/H/KR/2025 ↗
  2. Ilmu Pengetahuan Alam untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Bab VI Ekologi dan Pelestarian Lingkungan, hlm. 171 ↗
  3. Animal Diversity Web: Manis javanica (trenggiling Sunda) ↗
  4. BioEd Online (Baylor College of Medicine): Mimicry and Camouflage ↗
  5. Animal Diversity Web: Hippocampus kuda (spotted seahorse) ↗
  6. Scientific Reports (2017): Temporal dynamics of the mimetic allele frequency at the doublesex locus, which controls polymorphic Batesian mimicry in Papilio memnon butterflies ↗
  7. The Reptile Database: Bronchocela jubata ↗
  8. Animal Diversity Web: Chamaeleonidae (chameleons) ↗
  9. Stuart-Fox & Moussalli (2008), PLoS Biology: Selection for social signalling drives the evolution of chameleon colour change ↗
  10. The Reptile Database: Calotes versicolor ↗
  11. Animal Diversity Web: Hemidactylus frenatus (cicak rumah) ↗
  12. Emberts et al. (2017), Behavioral Ecology: Cut your losses: self-amputation of injured limbs increases survival (PMC) ↗
  13. Cartilage and Muscle Cell Fate and Origins during Lizard Tail Regeneration (Frontiers in Bioengineering and Biotechnology, PMC) ↗
  14. Animal Diversity Web: Hystricidae (landak Dunia Lama) ↗
  15. Lee et al. (2013), Hemolytic activity of venom from crown-of-thorns starfish Acanthaster planci spines (PMC) ↗
  16. Australian Museum: Venomous vs. Poisonous ↗
  17. Natural History Museum (London): Bite or be bitten: What is the difference between poison and venom? ↗
  18. Dufresnes et al. (2025), Nature Communications: Speciation and historical invasions of the Asian black-spined toad (PMC) ↗
  19. The Reptile Database: Naja sputatrix (kobra Jawa) ↗
  20. Barrett et al. (2021), Toxins: Risky Business: The Function of Play in a Venomous Mammal - The Javan Slow Loris (PMC) ↗
  21. Animal Diversity Web: Hapalochlaena lunulata (gurita cincin biru) ↗
  22. Animal Diversity Web: Paradoxurus hermaphroditus (musang luwak) ↗
  23. Animal Diversity Web: Mydaus javanensis (teledu) ↗
  24. Animal Diversity Web: Sepioteuthis lessoniana (cumi-cumi sirip besar) ↗
  25. Animal Diversity Web: Octopus cyanea (gurita besar biru) ↗
  26. Humphreys & Ruxton (2018), Behavioral Ecology and Sociobiology: A review of thanatosis (death feigning) as an anti-predator behaviour (PMC) ↗
  27. Giri et al. (2020), Reptiles & Amphibians 27(2): Death-feigning behavior by Copper-headed Trinket Snakes, Coelognathus radiatus ↗
  28. The Reptile Database: Coelognathus radiatus ↗

Diperiksa 2026-10-02. Kirim koreksi

Materi lainnya