Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

PANDUANHEWAN · INDONESIA

Kijang muncak

Kijang muncak (Muntiacus muntjak) adalah rusa kecil bertanduk pendek dan bertaring yang hidup di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Lombok.

Jawaban singkat

Status IUCN: Risiko rendah

Sekilas tentang kijang muncak

Kijang muncak (Muntiacus muntjak) adalah mamalia dari famili Cervidae. Dalam Daftar Merah IUCN, statusnya Risiko rendah (Least Concern).

Fakta singkat: Kijang muncak
Nama ilmiahMuntiacus muntjak
Nama InggrisSouthern red muntjac
KelompokMamalia
FamiliCervidae
Wilayah di IndonesiaSumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, dan banyak pulau kecil
Habitat terkaitHutan Hujan Tropis
MakananDaun, rumput, tunas, buah; kadang telur burung dan hewan kecil
Sebaran di IndonesiaSumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, dan pulau-pulau kecil
Ciri utamaJantan bertanduk pendek dan bertaring; suaranya mirip gonggongan anjing
Nama lainKijang, muncak, barking deer, Sunda red muntjac
Status Daftar Merah IUCNRisiko Rendah (Least Concern)
Status perlindungan di IndonesiaDilindungi (Permen LHK P.106/2018)
Status IUCNRisiko rendah (Least Concern) · IUCN Red List (via GBIF) · diperiksa 25 September 2026
Dalam panduan ini (10)
Foto Kijang muncak (Muntiacus muntjak).
(c) ꦥꦤ꧀ꦗꦶꦒꦸꦱ꧀ꦠꦶꦄꦏ꧀ꦧꦂ, some rights reserved (CC BY) · CC BY 4.0 · Foto dipotong untuk tata letak.
Tentang panduan iniDisusun dan diperiksa terhadap sumber tercantum; belum ditinjau pakar.

Apa itu kijang muncak?

Kijang muncak (Muntiacus muntjak) adalah rusa kecil berbulu cokelat kemerahan yang jantannya bertanduk pendek dan bertaring. Tubuhnya lebih kecil dan ramping daripada rusa lain. Menurut Farida dan rekan (2003), bulu punggungnya lebih gelap, sedangkan dagu, leher, dan perutnya putih; betina dan anak berwarna lebih pucat. Animal Diversity Web mencatat taring atas jantan sepanjang sekitar 2,5 cm. Dulu semua kijang merah Asia disatukan dalam M. muntjak. Kini beberapa otoritas, termasuk Mammal Diversity Database, memisahkan kijang daratan Asia sebagai M. vaginalis, sehingga M. muntjak merujuk pada kijang Semenanjung Malaya dan Kepulauan Sunda. Berbeda dengan kancil, kijang jantan bertanduk.

Dasar informasi: Biodiversitas — Farida et al. (2003), Habitat dan keragaman tumbuhan pakan kancil (Tragulus javanicus) dan kijang (Muntiacus muntjak) di Cagar Alam Nusakambangan ↗ · Animal Diversity Web — Muntiacus muntjak (Indian muntjac) ↗ · Mammal Diversity Database (ASM) — Muntiacus muntjak, Southern Red Muntjac ↗

Di mana kijang muncak hidup?

Di Indonesia, kijang muncak hidup di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, dan banyak pulau kecil, menurut Mammal Diversity Database; sebarannya juga mencakup Semenanjung Malaya. Kijang menyukai semak rapat di tepi hutan, semak di bekas ladang, dan hutan jati, dari dataran rendah hingga pegunungan setinggi 2.400 m. Di Taman Nasional Gunung Halimun, kijang tercatat hingga 1.600 m di Gunung Botol dan sering terlihat pada sore hari di lahan terbuka berumput kasar. Kijang juga menghuni Taman Nasional Bali Barat. Di sana, pengelola taman nasional memperkirakan jumlahnya sekitar 400 ekor pada 2017.

Dasar informasi: Mammal Diversity Database (ASM) — Muntiacus muntjak, Southern Red Muntjac ↗ · Tropics (J-STAGE) — Farida et al. (2006), Habitat distribution and diversity of plants as feed resources for mouse deer and barking deer in Gunung Halimun National Park ↗ · Mongabay Indonesia — Kijang Mati Diburu di Taman Nasional Bali Barat. Kok Bisa? (2017) ↗

Kijang muncak makan apa?

Kijang muncak memakan daun, rumput, tunas, biji, dan buah, dan kadang juga telur burung serta hewan kecil. Animal Diversity Web menggolongkan kijang merah sebagai omnivora. Di Nusakambangan, Farida dan rekan (2003) mencatat 19 jenis tumbuhan pakan kijang yang sebagian besar berupa daun, misalnya daun mahang (Macaranga), anggrung (Trema), kemlandingan (Leucaena), dan singkong. Di Gunung Halimun, kijang memakan semua jenis tumbuhan yang dimakan kancil, ditambah enam jenis lain, termasuk alang-alang dan beberapa jenis ara. Kijang biasanya makan pada malam dan pagi hari, sama seperti kancil.

Dasar informasi: Animal Diversity Web — Muntiacus muntjak (Indian muntjac) ↗ · Biodiversitas — Farida et al. (2003), Habitat dan keragaman tumbuhan pakan kancil (Tragulus javanicus) dan kijang (Muntiacus muntjak) di Cagar Alam Nusakambangan ↗ · Tropics (J-STAGE) — Farida et al. (2006), Habitat distribution and diversity of plants as feed resources for mouse deer and barking deer in Gunung Halimun National Park ↗

Mengapa kijang disebut barking deer?

Kijang disebut barking deer karena mengeluarkan suara mirip gonggongan anjing ketika merasakan kehadiran pemangsa. Menurut Animal Diversity Web, kijang dapat menggonggong lebih dari satu jam untuk memancing pemangsa menampakkan diri atau pergi. Kijang dewasa, jantan maupun betina, umumnya hidup menyendiri dan hanya berpasangan saat musim kawin. Ia aktif pada siang maupun malam hari. Kijang dapat berbiak sepanjang tahun dan biasanya melahirkan satu anak. Anak kijang meninggalkan wilayah induknya pada umur sekitar enam bulan, lalu harus mencari wilayahnya sendiri.

Dasar informasi: Animal Diversity Web — Muntiacus muntjak (Indian muntjac) ↗ · Biodiversitas — Farida et al. (2003), Habitat dan keragaman tumbuhan pakan kancil (Tragulus javanicus) dan kijang (Muntiacus muntjak) di Cagar Alam Nusakambangan ↗

Apakah kijang muncak terancam punah?

Kijang muncak belum tergolong terancam punah secara global, tetapi perburuan dan hilangnya hutan menekan populasinya. Daftar Merah IUCN menilainya Risiko Rendah (Least Concern). Studi genetik Martins dan rekan (2017) mencatat bahwa hilangnya habitat dan perburuan sudah menurunkan populasi kijang merah secara nyata di seluruh sebarannya, walau kijang lebih tahan gangguan daripada banyak satwa berkuku lain. Di Nusakambangan, warga menyebut kijang terus diburu untuk dimakan dagingnya dan sebagian dijual. Pada Januari 2017, empat kijang betina ditemukan mati ditembak pemburu di Taman Nasional Bali Barat.

Dasar informasi: BMC Evolutionary Biology (PMC) — Martins et al. (2017), Phylogeography of red muntjacs reveals three distinct mitochondrial lineages ↗ · Biodiversitas — Farida et al. (2003), Habitat dan keragaman tumbuhan pakan kancil (Tragulus javanicus) dan kijang (Muntiacus muntjak) di Cagar Alam Nusakambangan ↗ · Mongabay Indonesia — Kijang Mati Diburu di Taman Nasional Bali Barat. Kok Bisa? (2017) ↗

Apa yang harus dilakukan jika kijang masuk permukiman?

Jika kijang masuk permukiman, jangan mengejar, menangkap, atau melukainya; segera hubungi BKSDA atau petugas taman nasional terdekat. Pada Agustus 2019, seekor kijang jantan muda masuk ke ruang kelas SMK Muhammadiyah II Turi, Sleman. Tim Quick Response BKSDA Yogyakarta, petugas Taman Nasional Gunung Merapi, dan warga mengevakuasinya. Kijang itu terluka, diduga karena terbentur meja, lalu dirawat dokter hewan. Kijang muncak tercantum sebagai satwa dilindungi dalam Permen LHK P.106/2018. Karena itu, jangan membeli daging atau kijang hidup, dan laporkan perburuan kepada petugas.

Dasar informasi: Ditjen KSDAE — Kijang Masuk SMK Muhammadiyah II Turi, Tim Quick Response Segera Evakuasi (2019) ↗ · JDIH Kemenko Infrastruktur — Permen LHK P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi (PDF) ↗

Jelajahi habitat terkait

Hubungan berikut didukung sumber spesies dalam panduan ini. Daftar ini bukan peta sebaran lengkap.

Pertanyaan umum tentang kijang muncak

Apa nama latin kijang muncak?

Nama latin atau nama ilmiah kijang muncak adalah Muntiacus muntjak, dari famili Cervidae. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Southern red muntjac.

Di mana kijang muncak dapat ditemukan di Indonesia?

Di Indonesia, panduan ini mencatat kijang muncak di wilayah berikut: Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Lombok, dan banyak pulau kecil.

Habitat terkait yang didukung sumber: Hutan Hujan Tropis.

Kijang muncak makan apa?

Pola makan kijang muncak: daun, rumput, tunas, buah; kadang telur burung dan hewan kecil.

Apa status konservasi kijang muncak?

Dalam Daftar Merah IUCN, kijang muncak masuk kategori Risiko rendah (Least Concern): spesies ini belum memenuhi kriteria kategori terancam pada penilaian global. Sumber: IUCN Red List (via GBIF), diperiksa 25 September 2026.

Status global ini berbeda dari status perlindungan hukum di Indonesia. Untuk memastikan apakah kijang muncak termasuk satwa dilindungi, periksa daftar jenis satwa dilindungi yang berlaku atau hubungi BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat.

Sumber & referensi

  1. Animal Diversity Web — Muntiacus muntjak (Indian muntjac) ↗
  2. Mammal Diversity Database (ASM) — Muntiacus muntjak, Southern Red Muntjac ↗
  3. BMC Evolutionary Biology (PMC) — Martins et al. (2017), Phylogeography of red muntjacs reveals three distinct mitochondrial lineages ↗
  4. Biodiversitas — Farida et al. (2003), Habitat dan keragaman tumbuhan pakan kancil (Tragulus javanicus) dan kijang (Muntiacus muntjak) di Cagar Alam Nusakambangan ↗
  5. Tropics (J-STAGE) — Farida et al. (2006), Habitat distribution and diversity of plants as feed resources for mouse deer and barking deer in Gunung Halimun National Park ↗
  6. Mongabay Indonesia — Kijang Mati Diburu di Taman Nasional Bali Barat. Kok Bisa? (2017) ↗
  7. Ditjen KSDAE — Kijang Masuk SMK Muhammadiyah II Turi, Tim Quick Response Segera Evakuasi (2019) ↗
  8. JDIH Kemenko Infrastruktur — Permen LHK P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi (PDF) ↗
  9. IUCN Red List of Threatened Species, versi 2026-1, melalui GBIF (CC BY 4.0) ↗

Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.

Kutip halaman ini

PanduanHewan. (2026, 25 September). Kijang muncak (Muntiacus muntjak). PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/spesies/kijang-muncak/