Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

PANDUANHEWAN · INDONESIA

Murai batu

Murai batu (Copsychus malabaricus) adalah burung kicau hutan bersuara merdu yang populasinya di Indonesia merosot akibat penangkapan untuk perdagangan.

Jawaban singkat

Status IUCN: Risiko rendah

Sekilas tentang murai batu

Murai batu (Copsychus malabaricus) adalah burung dari famili Muscicapidae. Dalam Daftar Merah IUCN, statusnya Risiko rendah (Least Concern).

Fakta singkat: Murai batu
Nama ilmiahCopsychus malabaricus
Nama InggrisWhite-rumped shama
KelompokBurung
FamiliMuscicapidae
Wilayah di IndonesiaSumatera dan pulau-pulau di sekitarnya, Kalimantan, dan Jawa (di Jawa kini sangat langka di alam)
Habitat terkaitHutan Hujan Tropis, Mangrove
MakananArtropoda di tanah, juga cacing dan buah beri
Sebaran di IndonesiaSumatera, pulau-pulau sekitarnya, dan Kalimantan; langka di Jawa
Ciri utamaHitam mengilap, perut jingga, tunggir putih, ekor panjang
Nama lainKucica hutan; Kittacincla malabarica
Perdagangan internasionalApendiks II CITES sejak CoP19 (2022)
Status IUCNRisiko rendah (Least Concern) · IUCN Red List (via GBIF) · diperiksa 25 September 2026
Dalam panduan ini (10)
Foto Murai batu (Copsychus malabaricus).
(c) Rex Leung, some rights reserved (CC BY) · CC BY 4.0 · Foto dipotong untuk tata letak.
Tentang panduan iniDisusun dan diperiksa terhadap sumber tercantum; belum ditinjau pakar.

Apa itu murai batu?

Murai batu adalah burung kicau famili Muscicapidae yang terkenal karena kicauannya yang merdu dan ekornya yang panjang. Jantan berwarna hitam kebiruan mengilap di kepala dan punggung, perutnya jingga kemerahan, tunggirnya putih mencolok, dan bulu ekor terluarnya putih. Betina lebih kusam dengan warna abu-abu gelap. Menurut Bird Society of Singapore, panjangnya 21,5–28 cm. Burung ini sering tertukar dengan kacer, yang berperut putih dan tidak bertunggir putih.

BirdLife dan CITES memakai nama Copsychus malabaricus, sedangkan sebagian daftar lain memakai Kittacincla malabarica. Studi genom Wu dkk. (2022) menunjukkan murai batu sebenarnya terdiri atas beberapa garis keturunan yang berbeda.

Dasar informasi: Bird Society of Singapore, Birds of Singapore — White-rumped Shama ↗ · IUCN/TRAFFIC — Analyses of the proposals to amend the CITES Appendices at CoP19 (2022) ↗ · Wu et al. (2022), Molecular Biology and Evolution — Genomes From Historic DNA Unveil Massive Hidden Extinction and Terminal Endangerment in a Tropical Asian Songbird Radiation (PMC) ↗

Di mana murai batu hidup?

Murai batu hidup di hutan dataran rendah Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. BirdLife mencatat habitatnya meliputi hutan hujan dataran rendah, hutan rawa, hutan sekunder, perkebunan yang ditumbuhi semak, hutan bakau, dan bukaan hutan, biasanya hingga ketinggian 500–600 m. Burung ini menyukai semak bawah dan jurang yang teduh. Di Aceh, Mongabay Indonesia melaporkan murai batu di hutan Leuser dan Ulu Masen serta di Pulau Weh, Simeulue, dan Pulau Banyak.

Di Jawa, analisis IUCN dan TRAFFIC menyebut murai batu sudah langka pada 1980-an dan diduga punah secara lokal di alam sebelum 1997.

Dasar informasi: BirdLife International DataZone — White-rumped Shama Copsychus malabaricus species factsheet ↗ · Mongabay Indonesia — Diburu, Nasib Murai Batu Makin Tak Menentu (2021) ↗ · IUCN/TRAFFIC — Analyses of the proposals to amend the CITES Appendices at CoP19 (2022) ↗

Murai batu makan apa?

Murai batu terutama memakan artropoda, yaitu hewan beruas seperti serangga, serta cacing dan buah beri. Menurut BirdLife, burung ini mencari makan di tanah dan di lapisan bawah hutan. Bird Society of Singapore mencatat bahwa murai batu lebih banyak mengais di antara serasah daun dan sering berpindah-pindah di semak yang rapat. Seorang warga Gayo Lues yang dikutip Mongabay Indonesia menyebut murai batu dulu datang ke kebun untuk memakan serangga dan ulat, tetapi kini jarang terlihat karena perburuan.

Dasar informasi: BirdLife International DataZone — White-rumped Shama Copsychus malabaricus species factsheet ↗ · Bird Society of Singapore, Birds of Singapore — White-rumped Shama ↗ · Mongabay Indonesia — Diburu, Nasib Murai Batu Makin Tak Menentu (2021) ↗

Bagaimana murai batu berkembang biak?

Murai batu bersarang di dalam rongga, seperti lubang pohon atau kotak sarang. Dalam studi kotak sarang di Guangxi, Tiongkok selatan, Zhang dkk. (2024) mendapati murai batu memilih sarang di pohon dekat tepi hutan. Jumlah telur yang paling sering ditemukan adalah lima butir. Telur dierami sekitar 12 hari, lalu anak burung disuapi sekitar 11 hari. Jantan dan betina sama-sama menyuapi anak.

Kicauannya berupa rangkaian nada seperti seruling dan siulan keras, dan sering meniru burung lain. BirdLife menilai penelitian tentang perilaku berbiak murai batu masih sangat dibutuhkan.

Dasar informasi: Zhang et al. (2024), Animals — Comparison of Reproductive Strategies between Two Sympatric Copsychus Passerines (PMC) ↗ · Hawaiʻi Birding Trails (State of Hawaiʻi) — White-rumped shama ↗ · BirdLife International DataZone — White-rumped Shama Copsychus malabaricus species factsheet ↗

Mengapa murai batu banyak diburu untuk perdagangan burung kicau?

Murai batu diburu karena kicauannya sangat dihargai dalam lomba burung kicau, terutama di Indonesia. Menurut BirdLife, survei 2018 terhadap lebih dari 3.000 rumah tangga di enam provinsi di Jawa memperkirakan sekitar 3,4 juta ekor murai batu dipelihara di Jawa saja. Analisis IUCN dan TRAFFIC mencatat 432 penyitaan dengan lebih dari 15.000 ekor pada 2008–2018 di lima negara Asia Tenggara, dan penyelundupan lintas negara terutama berasal dari Malaysia ke Indonesia.

Wu dkk. (2022) menemukan lebih dari 40% keragaman filogenetik kelompok murai batu sudah punah di alam atau hampir punah, termasuk bentuk dari Jawa dan Pulau Kangean.

Dasar informasi: BirdLife International DataZone — White-rumped Shama Copsychus malabaricus species factsheet ↗ · IUCN/TRAFFIC — Analyses of the proposals to amend the CITES Appendices at CoP19 (2022) ↗ · Wu et al. (2022), Molecular Biology and Evolution — Genomes From Historic DNA Unveil Massive Hidden Extinction and Terminal Endangerment in a Tropical Asian Songbird Radiation (PMC) ↗

Bagaimana melindungi murai batu?

Cara terpenting melindungi murai batu adalah menghentikan penangkapan dari alam dan penyelundupan. Pada CoP19 tahun 2022, murai batu dimasukkan ke Apendiks II CITES, sehingga perdagangan internasionalnya memerlukan izin. Masyarakat dapat membantu dengan tidak membeli burung tangkapan alam, tidak memasang perangkap atau burung pemikat di hutan, dan melaporkan dugaan penyelundupan kepada BKSDA atau aparat penegak hukum. Menjaga hutan dataran rendah juga penting. Mongabay Indonesia melaporkan pemburu burung kicau masih mengincar kawasan seperti Taman Nasional Kerinci Seblat.

Dasar informasi: TRAFFIC — Asian songbirds ↗ · TRAFFIC — In the Market for Extinction: An inventory of Jakarta's bird markets (Chng et al., 2015) ↗ · Mongabay Indonesia — Nasib Sang 'Biduan' Hutan Makin Suram (2023) ↗

Jelajahi habitat terkait

Hubungan berikut didukung sumber spesies dalam panduan ini. Daftar ini bukan peta sebaran lengkap.

Pertanyaan umum tentang murai batu

Apa nama latin murai batu?

Nama latin atau nama ilmiah murai batu adalah Copsychus malabaricus, dari famili Muscicapidae. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut White-rumped shama.

Di mana murai batu dapat ditemukan di Indonesia?

Di Indonesia, panduan ini mencatat murai batu di wilayah berikut: Sumatera dan pulau-pulau di sekitarnya, Kalimantan, dan Jawa (di Jawa kini sangat langka di alam).

Habitat terkait yang didukung sumber: Hutan Hujan Tropis, Mangrove.

Murai batu makan apa?

Pola makan murai batu: artropoda di tanah, juga cacing dan buah beri.

Apa status konservasi murai batu?

Dalam Daftar Merah IUCN, murai batu masuk kategori Risiko rendah (Least Concern): spesies ini belum memenuhi kriteria kategori terancam pada penilaian global. Sumber: IUCN Red List (via GBIF), diperiksa 25 September 2026.

Status global ini berbeda dari status perlindungan hukum di Indonesia. Untuk memastikan apakah murai batu termasuk satwa dilindungi, periksa daftar jenis satwa dilindungi yang berlaku atau hubungi BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat.

Sumber & referensi

  1. BirdLife International DataZone — White-rumped Shama Copsychus malabaricus species factsheet ↗
  2. Wu et al. (2022), Molecular Biology and Evolution — Genomes From Historic DNA Unveil Massive Hidden Extinction and Terminal Endangerment in a Tropical Asian Songbird Radiation (PMC) ↗
  3. IUCN/TRAFFIC — Analyses of the proposals to amend the CITES Appendices at CoP19 (2022) ↗
  4. TRAFFIC — Asian songbirds ↗
  5. Mongabay Indonesia — Diburu, Nasib Murai Batu Makin Tak Menentu (2021) ↗
  6. Mongabay Indonesia — Nasib Sang 'Biduan' Hutan Makin Suram (2023) ↗
  7. Bird Society of Singapore, Birds of Singapore — White-rumped Shama ↗
  8. Hawaiʻi Birding Trails (State of Hawaiʻi) — White-rumped shama ↗
  9. Zhang et al. (2024), Animals — Comparison of Reproductive Strategies between Two Sympatric Copsychus Passerines (PMC) ↗
  10. TRAFFIC — In the Market for Extinction: An inventory of Jakarta's bird markets (Chng et al., 2015) ↗
  11. IUCN Red List of Threatened Species, versi 2026-1, melalui GBIF (CC BY 4.0) ↗

Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.

Kutip halaman ini

PanduanHewan. (2026, 25 September). Murai batu (Copsychus malabaricus). PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/spesies/murai-batu/