Jawaban singkat
Status IUCN: Risiko rendahSekilas tentang ular weling
Ular weling (Bungarus candidus) adalah reptil dari famili Elapidae. Dalam Daftar Merah IUCN, statusnya Risiko rendah (Least Concern).
| Nama ilmiah | Bungarus candidus |
|---|---|
| Nama Inggris | Malayan krait |
| Kelompok | Reptil |
| Famili | Elapidae |
| Wilayah di Indonesia | Sumatera, Jawa, dan Bali |
| Habitat terkait | Habitat Perkotaan |
| Makanan | Ular lain, kadal, amfibi, dan mamalia kecil |
| Sebaran di Indonesia | Sumatera, Jawa, dan Bali |
| Ciri utama | Belang hitam-putih di punggung; perut putih polos |
| Waktu aktif | Malam hari (nokturnal) |
| Nama lain | Malayan krait, blue krait |
| Bahaya bagi manusia | Bisa neurotoksik kuat; gigitan bisa tidak terasa sakit |
| Status IUCN | Risiko rendah (Least Concern) · IUCN Red List (via GBIF) · diperiksa 25 September 2026 |
Dalam panduan ini (10)

Apa itu ular weling?
Ular weling (Bungarus candidus) adalah krait berbisa dari suku Elapidae, dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Malayan krait, dengan belang hitam dan putih serta perut putih polos. Pedoman WHO menggambarkan tanda hitam berbentuk pelana di punggungnya dan sisik perut yang putih bersih. Weling dapat tertukar dengan ular welang, serta dengan anakan Lycodon subcinctus atau Lycodon stormi yang juga belang hitam-putih. Bentuk hitam polos yang dulu dideskripsikan sebagai Bungarus javanicus kini dianggap bentuk melanistik weling. Nama candidus berasal dari bahasa Latin yang berarti bersinar, merujuk pada sisiknya yang halus dan mengilap.
Dasar informasi: WHO Regional Office for South-East Asia — Guidelines for the management of snakebites, 2nd edition (2016) ↗ · The Reptile Database — Bungarus candidus ↗ · Acta Medica Indonesiana — Adiwinata & Nelwan (2015), Snakebite in Indonesia ↗
Di mana ular weling hidup dan kapan aktif?
Di Indonesia, ular weling tercatat di Sumatera, Jawa, dan Bali; catatan dari Sulawesi dianggap meragukan karena terakhir dilaporkan pada 1887. Weling kerap hidup dekat manusia: di Jabodetabek, ia tercatat 24 kali dalam laporan ular di permukiman pada 2015–2019. Studi radio-telemetri di sebuah kampus di Thailand menemukan lebih dari separuh lokasi weling berada di permukiman dan 37,1 persen terkait bangunan. Siang hari weling bersembunyi di liang atau di bawah bangunan, lalu keluar setelah matahari terbenam, antara pukul 19.00 dan 22.30. Aktivitasnya lebih tinggi pada musim hujan dan paling rendah pada musim panas.
Dasar informasi: The Reptile Database — Bungarus candidus ↗ · Media Konservasi — Khoerunisa, Kusrini & Mardiastuti (2021), Diversity of snake rescued from residential areas in Greater Jakarta Metropolitan Area ↗ · Scientific Reports — Hodges et al. (2022), Malayan kraits (Bungarus candidus) show affinity to anthropogenic structures in a human dominated landscape ↗
Ular weling makan apa?
Ular weling memangsa ular lain, kadal, amfibi, dan mamalia kecil, dan berburu terutama pada malam hari. Dalam studi radio-telemetri di Thailand, dua weling terlihat memakan ular di area buatan manusia: satu di selokan beton dekat asrama mahasiswa, satu lagi di atrium gedung perkantoran. Catatan lain dari kampus yang sama menunjukkan seekor weling memangsa ular terbang Chrysopelea ornata di lorong gedung, sekitar 25 menit setelah matahari terbit. Para peneliti menduga weling masuk ke permukiman untuk mengejar mangsa, sehingga peluang bertemu manusia meningkat.
Dasar informasi: Journal of Threatened Taxa — Hodges, D'souza & Jintapirom (2020), Diurnal observation of a Malayan Krait feeding inside a building in Thailand ↗ · Scientific Reports — Hodges et al. (2022), Malayan kraits (Bungarus candidus) show affinity to anthropogenic structures in a human dominated landscape ↗
Apa bedanya ular weling dan ular welang?
Cara termudah membedakannya: belang welang melingkari seluruh tubuh hingga perut, sedangkan perut weling putih polos. Menurut Perhimpunan Herpetologi Indonesia, tubuh weling membulat, sedangkan tubuh welang bersegi tiga. Welang biasanya berbelang hitam-kuning, meski ada yang hitam-putih, sementara weling berbelang hitam-putih. Pedoman WHO menambahkan bahwa ujung ekor welang tumpul. Welang dapat mencapai 2,25 meter. Keduanya sama-sama krait berbisa neurotoksik yang aktif pada malam hari. Namun, WHO mencatat kematian akibat weling di Jawa, sedangkan kasus gigitan welang di Indonesia belum diketahui. Karena mudah tertukar, perlakukan keduanya sebagai ular berbahaya.
Dasar informasi: Perhimpunan Herpetologi Indonesia — Ular Welang (Bungarus fasciatus) (salinan arsip Wayback Machine, April 2026) ↗ · WHO Regional Office for South-East Asia — Guidelines for the management of snakebites, 2nd edition (2016) ↗ · Scientific Reports — Biakzuala et al. (2023), Molecular phylogeny reveals distinct evolutionary lineages of the banded krait ↗
Apakah ular weling berbahaya?
Ya, ular weling sangat berbahaya; bisanya neurotoksik kuat dan dapat menyebabkan kelumpuhan otot yang makin berat hingga gagal napas. WHO memasukkannya ke kategori 1, kelompok kepentingan medis tertinggi, di Sumatera dan Jawa hingga Bali, dan mencatat kematian akibat weling di Jawa. Gigitan krait bisa tidak terasa sakit dan sering terjadi pada malam hari; sebagian korban tergigit saat tidur. WHO menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi ketika krait masuk rumah untuk berburu dan orang yang tidur di lantai tanpa sengaja menindihnya. Jika dicurigai tergigit, segera cari pertolongan medis di fasilitas kesehatan.
Dasar informasi: WHO Regional Office for South-East Asia — Guidelines for the management of snakebites, 2nd edition (2016) ↗ · PLOS ONE — Rusmili et al. (2019), Variations in neurotoxicity and proteome profile of Malayan krait (Bungarus candidus) venoms ↗ · Scientific Reports — Hodges et al. (2022), Malayan kraits (Bungarus candidus) show affinity to anthropogenic structures in a human dominated landscape ↗
Apa yang harus dilakukan jika bertemu ular weling?
Jika bertemu ular weling, jaga jarak, jangan mendekat, menangkap, memegang, atau membunuhnya, dan minta bantuan petugas terlatih seperti Damkar. Di Jabodetabek, dinas pemadam kebakaran termasuk lembaga yang mengevakuasi ular dari permukiman, dan Bungarus termasuk ular berbisa yang paling sering dipindahkan. Untuk mengurangi risiko gigitan, WHO menyarankan agar tidak tidur di lantai tanpa pelindung dan memakai kelambu yang diselipkan rapat di bawah kasur. Gunakan penerangan saat berjalan di malam hari, periksa rumah secara berkala, tutup celah tempat ular bisa bersembunyi, dan simpan makanan dalam wadah rapat agar tidak mengundang tikus.
Dasar informasi: Media Konservasi — Khoerunisa, Kusrini & Mardiastuti (2021), Diversity of snake rescued from residential areas in Greater Jakarta Metropolitan Area ↗ · WHO Regional Office for South-East Asia — Guidelines for the management of snakebites, 2nd edition (2016) ↗
Jelajahi habitat terkait
Hubungan berikut didukung sumber spesies dalam panduan ini. Daftar ini bukan peta sebaran lengkap.
Pertanyaan umum tentang ular weling
Apa nama latin ular weling?
Nama latin atau nama ilmiah ular weling adalah Bungarus candidus, dari famili Elapidae. Dalam bahasa Inggris, hewan ini disebut Malayan krait.
Di mana ular weling dapat ditemukan di Indonesia?
Di Indonesia, panduan ini mencatat ular weling di wilayah berikut: Sumatera, Jawa, dan Bali.
Habitat terkait yang didukung sumber: Habitat Perkotaan.
Ular weling makan apa?
Pola makan ular weling: ular lain, kadal, amfibi, dan mamalia kecil.
Apa status konservasi ular weling?
Dalam Daftar Merah IUCN, ular weling masuk kategori Risiko rendah (Least Concern): spesies ini belum memenuhi kriteria kategori terancam pada penilaian global. Sumber: IUCN Red List (via GBIF), diperiksa 25 September 2026.
Status global ini berbeda dari status perlindungan hukum di Indonesia. Untuk memastikan apakah ular weling termasuk satwa dilindungi, periksa daftar jenis satwa dilindungi yang berlaku atau hubungi BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) setempat.
Sumber & referensi
- The Reptile Database — Bungarus candidus ↗
- PLOS ONE — Rusmili et al. (2019), Variations in neurotoxicity and proteome profile of Malayan krait (Bungarus candidus) venoms ↗
- Scientific Reports — Hodges et al. (2022), Malayan kraits (Bungarus candidus) show affinity to anthropogenic structures in a human dominated landscape ↗
- Journal of Threatened Taxa — Hodges, D'souza & Jintapirom (2020), Diurnal observation of a Malayan Krait feeding inside a building in Thailand ↗
- WHO Regional Office for South-East Asia — Guidelines for the management of snakebites, 2nd edition (2016) ↗
- Acta Medica Indonesiana — Adiwinata & Nelwan (2015), Snakebite in Indonesia ↗
- Perhimpunan Herpetologi Indonesia — Ular Welang (Bungarus fasciatus) (salinan arsip Wayback Machine, April 2026) ↗
- Media Konservasi — Khoerunisa, Kusrini & Mardiastuti (2021), Diversity of snake rescued from residential areas in Greater Jakarta Metropolitan Area ↗
- Scientific Reports — Biakzuala et al. (2023), Molecular phylogeny reveals distinct evolutionary lineages of the banded krait ↗
- IUCN Red List of Threatened Species, versi 2026-1, melalui GBIF (CC BY 4.0) ↗
Rujukan dapat berubah. Periksa tanggal dan konteks pada sumber asli.
Kutip halaman ini
PanduanHewan. (2026, 25 September). Ular weling (Bungarus candidus). PanduanHewan.org. https://panduanhewan.org/id/spesies/ular-weling/