Untuk semua hewan. Untuk masa depan bersama.Sebuah inisiatif nirlaba

PANDUANHEWAN · INDONESIA

Perbedaan ular welang dan ular weling

Apa bedanya ular welang (Bungarus fasciatus) dan ular weling (Bungarus candidus)? Perbandingan klasifikasi, ciri, sebaran, makanan, ukuran, status IUCN, dan perlindungan hukum dari sumber tercantum.

Ular welang (Bungarus fasciatus) dan ular weling (Bungarus candidus) adalah dua spesies berbeda dalam genus yang sama, Bungarus. Wilayah di Indonesia — ular welang: Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali; ular weling: Sumatera, Jawa, dan Bali.

Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali
Bungarus fasciatus

Ular welang (Bungarus fasciatus) adalah krait berbisa neurotoksik dengan belang hitam-kuning melingkar penuh, di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Bali.

Sumatera, Jawa, dan Bali
Bungarus candidus

Ular weling (Bungarus candidus) adalah krait sangat berbisa bergaris hitam-putih dari Sumatera, Jawa, dan Bali yang aktif pada malam hari.

Tabel perbedaan Ular welang dan Ular weling

Perbandingan dua hewan
AspekUlar welangUlar weling
Nama ilmiahBungarus fasciatusBungarus candidus
Nama InggrisBanded kraitMalayan krait
KelasReptiliaReptilia
OrdoSquamataSquamata
FamiliElapidaeElapidae
Wilayah di IndonesiaSumatera, Jawa, Kalimantan, dan BaliSumatera, Jawa, dan Bali
Endemik IndonesiaTidakTidak
Ciri utamaBelang melingkar hingga perut; tubuh bersegi tigaBelang hitam-putih di punggung; perut putih polos
UkuranHingga 225 cm—
MakananUlar lain, kadal, dan mamalia kecilUlar lain, kadal, amfibi, dan mamalia kecil
Jenis pemakankarnivora (pemakan daging)karnivora (pemakan daging)
Cara berkembang biakbertelur (ovipar)bertelur (ovipar)
Status IUCNRisiko rendah (Least Concern)Risiko rendah (Least Concern)

Setiap sel berasal dari data bersumber di halaman masing-masing hewan; sel kosong berarti data itu belum tersedia, bukan berarti sama atau tidak ada.

Cara membedakan

  • Ular welang: Belang melingkar hingga perut; tubuh bersegi tiga.
  • Ular weling: Belang hitam-putih di punggung; perut putih polos.

Membedakan hewan tidak menggantikan menjaga jarak. Jangan mendekati, menangkap, atau memegang satwa liar; bila tergigit, segera ke fasilitas kesehatan.

Sumber

  1. The Reptile Database — Bungarus fasciatus ↗
  2. Perhimpunan Herpetologi Indonesia — Ular Welang (Bungarus fasciatus) (salinan arsip Wayback Machine, April 2026) ↗
  3. The Herpetological Bulletin — Knierim et al. (2019), Spatial ecology study reveals nest attendance and habitat preference of banded kraits ↗
  4. Scientific Reports — Biakzuala et al. (2023), Molecular phylogeny reveals distinct evolutionary lineages of the banded krait ↗
  5. WHO Regional Office for South-East Asia — Guidelines for the management of snakebites, 2nd edition (2016) ↗
  6. Media Konservasi — Khoerunisa, Kusrini & Mardiastuti (2021), Diversity of snake rescued from residential areas in Greater Jakarta Metropolitan Area ↗
  7. Ecology Asia ↗
  8. ReptTraits v1-2 (Oskyrko et al. 2024, Scientific Data 11:243), column 'Active time' ↗
  9. WHO Regional Office for South-East Asia (2016), Guidelines for the management of snakebites, 2nd ed ↗
  10. GBIF Backbone Taxonomy (GBIF) ↗
  11. The Reptile Database — Bungarus candidus ↗
  12. PLOS ONE — Rusmili et al. (2019), Variations in neurotoxicity and proteome profile of Malayan krait (Bungarus candidus) venoms ↗
  13. Scientific Reports — Hodges et al. (2022), Malayan kraits (Bungarus candidus) show affinity to anthropogenic structures in a human dominated landscape ↗
  14. Journal of Threatened Taxa — Hodges, D'souza & Jintapirom (2020), Diurnal observation of a Malayan Krait feeding inside a building in Thailand ↗
  15. Acta Medica Indonesiana — Adiwinata & Nelwan (2015), Snakebite in Indonesia ↗
  16. British Herpetological Society ↗

Ingin melihat semua hewan?

Cari berdasarkan nama, habitat, atau pulau di direktori hewan.

Buka direktori hewan